Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

4 Februari 2014

Kerajaan Islam yang Pertama di Nusantara Kerajaan Perlak atau Samudera Pasai ?



Oleh:

Nanda Winar Sagita

Cut Ade Maudalena

Masuknya pengaruh islam ke Indonesia masih menimbulkan banyak kontroversi yang belum terpecahkan. Salah satu yang paling terkenal adalah tentang mana yang lebih dulu berdiri antara kerajaan Perlak dan kerajaan Samudera Pasai. Dalam makalah ini, kami akan mengungkapkan beberapa argumen dari berbagai referensi yang menelaah tentang kedua kerajaan tersebut.

Islam Masuk ke Aceh

Dalam naskah tua Izhar al-Haqq yang dirujuk oleh Ali Hasjmy, di informasikan bahwa pada 173 H (789 M), terdapat sebuah kapal asing yang datang dari Teluk Kambay di Gujarat singgah berlabuh di Bandar Perlak. Tahun-tahun ini, dunia Islam berada dalam kekuasaan Khalifah Harun ar-Rasyid (785-809) yang berpusat di Baghdad. Kehadiran rombongan khalifah ini mennyebabkan terjalinya hubungan dan kontak budaya antar kedua bangsa. Dalam satu sumber menyebutkan, penyebaran Islam di bagian utara Sumatera dilakukan oleh seorang ulama Arab yang bernama Syaikh Abdullah Arif.


Disamping menjalankan misi dagang, rombongan ini juga membawa misi dakwah syiar Islam. Mereka mengajarkan persaudaraa, persamaaan, kasih sayang, tolong menolong dan bagaimana cara beribadah dalam koteks Islam. Keramah-tamahan para pendatang ini menyebabkan banyak penduduk setempat yang tertarik untuk masuk Islam. Karena setelah sekian lama, Islam terus berkembang ke pelosok negeri Aceh. Dan yang menjadi masalah hingga saat ini adalah kerajaan Islam apa yang pertama sekali berdiri di Aceh?

Kerajaan Perlak

Perlak merupakan sebuah daerah di pesisir timur daerah Aceh. Sebagaimana yang disebutkan dalam banyak sumber, bahwa Raja dan rakyat daerah negeri Perlak adalah keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi dan keturunan pasukan-pasukan pengikutnya. Naskah-naskah tua yang dijadikan sebagai rujukan tentag keberadaan Kerajaan Perlak ada tiga yaitu, Mamlakatil Ferlah wal Fasi karangan Abu Ishaq Makarani Al Fasy, Kitab Tazkirah Thabakat Jummu Sulthan as Shalatin karangan Syekh Syamsul,  dan Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasai karanga Bahri Abdullah as Asyi. Selain itu, ditemukan juga dalam catatan Marcopolo. Buku Zhufan Zhi yang ditulis Zhao Rugua tahun 1225 mengutip catatan seorang ahli geografi Chou Ku-fei bahwa ada negeri orang Islam yag jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa. Dan ada kepastian bahwa negeri yang dimaksud oleh Chou Ku-fei itu adalah Perlak. Ini karena dia menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunei memakan waktu 15 hari.


Menurut buku Gerak Kebangkitan Aceh karangan M. Junus Jamil, agama Islam yang mula-mula masuk ke Aceh adalah Islam yang beraliran Syiah. Setelah Islam berkembang, berdirilah sebuah kerajaan Islam di daerah ini sekitar tahun 840 M. Kerajaan yang telah didirikan itu hidup subur da menjalar luas melalui dinasti raja-rajanya. Pada hari peresmian berdirinya Kerajaan Islam itu, Bandar Perlak ditukar namanya menjadi Bandar Khalifah.

Raja pertama Perlak bernama Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah menganut aliran Syiah. Pada masa Sultan ketiga Sultan Sayyid Maulana Abbas Syah aliran Ahlus Sunnah masuk ke Perlak. Hal ini menyebabkan terjadinya perang saudara antara Syiah dan Sunni, sehingga dalam jangka waktu dua tahun, Kerajaan Perlak tidak memiliki Sultan. Karena golongan Syiah mengalami kekalahan, maka yang menjadi sultan selanjutnya berasal dari golongan Sunni.


Adapun kemudian, pada masa pemerintahan Sultan yang ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat, kerajaan Perlak terbagi dua, bagia pesisir didomisili oleh golongan Syiah dan bagian pedalaman didomisili oleh golongan Sunni. Hal ini tidak bertahan lama, karena pada sultan yang selanjutnya kerajaan Perlak kembali di bawah satu pemerintahan yaitu dari golongan Sunni. Penyebab utamannya karena pada saat ini Sriwijaya menyerang kerajaan Perlak sehingga sultan mangkat. Selanjutnya, pemerintahan kerajaan Perlak berjalan damai sampai akhirya pada masa Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat kerajaan Perlak berakhir dan bersatu dengan kerajaan Samudera Pasai sekitar tahun 1295.

Adapun Raja-Raja yang memerintah di Kerajaan Perlak adalah:
A.    Dinasti Saiyyid Maulana 

1.      Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abdul Aziz Syah (840-864)
2.      Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abdur Rahim Syah (864-888)
3.      Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abbas Syah (888-913)
4.      Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Ali Mughayah Syah (915-918)

B.     Dinasti Makhdum Johan Berdaulat

1.      Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (918-922)
2.      Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (922-946)
3.      Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Joha Berdaulat (946-973)
4.      a. Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Mahmud Syah (976-988/Syiah)
b. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (976-1012/Sunni)
                 5.   Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (1012-1059)
     6.   Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (1059-1078)
     7.   Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (1078-1108)
     8.   Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (1108-1134)
     9.  Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Syah II Johan Berdaulat    (1134-           1158)
   10.   Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat (1158-1170)
   11.  Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat (1170- 1196)
   12.  Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat (1196-   1225)
   13.   Sultan Makhdum Alaiddin Malik Amin Syah II Johan Berdaulat (1225-1263)
   14. Sultan  Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (1263-  1292)
 
Kerajaan Samudera Pasai

Secara geografis, letak Samudera Pasai berada di daerah timur Pulau Sumatera bagian utara yang berdekatan dengan jalur perdagangan perdagangan internasional, Selat Malaka. Berdasarkan hikayat Raja-Raja Pasai, diceritkan tentang pendirian Pasai oleh Meurah Silu, setelah sebelumnya ia menyingkirkan seorang Raja yang bernama Sultan Malik al Nasser. Meurah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dega Samerlanga kemudian setelah naik tahta, beliau bergelar Sultan Malikul Saleh. Dia mangkat pada tahun 1297 M. 


Dalam hikayat Raja-Raja Pasai maupun Sulalatus Salatin, nama Pasai da Samudera dipisahkan merujuk pada dua kawasan berbeda, namun dalam catatan Tiongkok, nama-nama itu tidak dipisahkan sama sekali. Sementara Marcopolo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).

Pemerintahan Sultan Malikul Saleh kemudian dilajutkan oleh putraya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uag telah diperkenalkan di pasai. Setelah dia mangkat, dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik az-Zahirndan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya inilah Pasai dikunjungi oleh seorang pengembara dari Timur Tengah Ibnu Batuttah yang kemudia menceritkan sultan dari negeri Samatrah (Samudera) menyambutya dengan ramah dan mayoritas penduduk disana menganut mazhab Syafi’i.


Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit sekitar tahun 1345 dan 1350 sehingga sultan terpaksa melarikan diri. Pasai bangkit kembali dibawah pemerintahan Sultan Zainal Abidin tahun 1383. Dalam catatan China, namanya dikenal dengan sebutan Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Armada Cheng Ho yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut-turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho, yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma  Huan dan Fei Xin. Dalam kunjungannya ke Pasai, Cheng Ho menyampaikan hadiah dari Kaisar China berupa sebuah lonceng yang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya.

Sekitar tahun 1434, Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Bejing. Kaisar Xuade dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut. Pasai merupakan kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi utamanya. Dalam catata Ma Huan disebutkan 100 kati lada dijual degan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut deureuham yang dibuat dari 70% emas murni dengan berat 0.60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.

Kami kutip dari essay pendek berjudul “Walisongo, Para Muballigh Asal Kerajaan Samudera Pasai. Dulu Mantap Kini Digugat”  karangan Pak T.A Sakti, dinyatakan bahwa empat dari sembilan Wali Songo yang terkenal itu berasal dari Samudera Pasai, yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Drajat, dan Sunan Bonang. Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya Kerajaan Samudera saat itu dalam bidang menyebar luaskan agama Islam.
Sementara itu, masyarakat Pasai umumnnya telah menanam padi di ladang yang dipanen 2 kali dalam setahun, serta memiliki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan. Dengan diskripsi ini, tidak dipungkiri kita dapat mengatakan betapa sejahteranya kehidupan masyarakat pada masa itu.
Meskipun Islam adalah agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, akan tetapi pengaruh Hindu dan Budha juga turut mewarnai masyarakat ini. dari catatan Ma Huan dan Tom Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Dalam ritual ini, masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Buddha. Dalam karangan lain Pak T.A Sakti disebutkan bahwa bahasa Melayu yang ada di Pasai adalah akar tunggang dari bahasa Nasional Indonesia yang kita pakai pada saat ini. hal ini juga menunjukan betapa berpengaruhnya Kerajaan Samudera Pasai bukan hanya pada zamannya, akan tetapi beberapa abad setelah keruntuhannya.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kerajaan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukan oleh portugal tahun 1524 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kerajaan Aceh Darussalam.
Adapun Raja-Raja yang memerintah di Kerajaan Samudera Pasai adalah sebagai berikut:
A.    Dinasti Meurah Giri
1.      Maharaja Mahmud Syah (1042-1078)
2.      Maharaja Mansur Syah (1078-1133)
3.      Maharaja Ghiyasyuddin Syah (1133-1155)
4.      Maharaja Nurdin (1155-1210)
B.     Dinasti Malikul-Dhahir
1.      Sultan Alaiddin Malikussalih (1261-1295)
2.      Sultan Muhammad malikud-Dhahir (1295-1326)
3.      Sultan Ahmad Malikud-Dhahir (1326-1350)
4.      Sultan Zainul-Abidin Malikud-Dhahir (1350-1394)
5.      Maharaja nagur Rabbath Abdul Kadir Syah (1394-1400)
6.      Sultanah Nihrasiyah Khadiyu (1400-1428)
Manakah Kerajaan Islam yang Pertama?
Perlak di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Kesimpulan dari Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara tahun 1980, keputusan itu didasarkan pada satu dokumen tertua bernama kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy. Itu yang menyisahkan pertanyaan bagi sebagian sejarawan mengenai kebenaran sejarah itu.
Kitab Idharul Haq yang dijadikan sumber satu-satunya. Sebagian sejarawan meragukannya. Apalagi kitab Idharul Haq yang diperlihatkan dalam seminar itu katanya bukan dalam bentuk asli, tidak utuh lagi melainkan hanya lembaran lepas. Kitab itu sendiri masih misteri, karena sampai sekarang belum ditemukan dalam bentuk aslinya. Sehingga ada yang mengatakan kita Idharul Haq ini hanya satu rekayasa sejarah untuk menguatkan pendapat bahwa berdasarkan kitab itu benar kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Perlak.
Banyak peneliti sejarah kritis, meragukan Perlak itu sebagai tempat pertama berdirinya kerajaan Islam besar di Aceh. Diperkuat dengan belum adanya ditemukan artevak-artevak atau situs-situs tertua peninggalan sejarah. Sehingga para peneliti lebih cenderung menyimpulkan kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Samudra Pasai yang terdapat di Aceh Utara. Banyak bukti yang meyakinkan, baik dalam bentuk teks maupun benda-benda arkeologis lainnya. Seperti mata uang dirham pasai dan batu-batu nisan yang bertuliskan tahun wafatnya para Sultan kerajaan Islam Samudra Pasai.
Samudera Pasai sebagai kerajaan pertama di nusantara kerena diukung oleh beberapa bukti-bukti peninggalan sejarah yang dapat dijadikan alasan yang kuat. Misalnya makam Sultan Malikul Saleh. Akan tetapi karena sumber terkini juga banyak menyebutkan bahwa kerajaaan Perlak adalah yang pertama di nusantara, misalnya buku Gerak Kebangkitan Aceh karya M. Junus Jamil, maka hal ini telah menjadi semacam doktrin yang sulit untuk dilepaskan dari pemahaman bannyak orang tentang kerajaan mana yang lebih dahulu berdiri.
Dari sekia banyak referensi yang berhasil kami kumpulkan, belumlah cukup untuk kami menyatakan kerajaan manakah yag lebih dahulu muncul. Akan tetapi jika memang harus tetap memutuskan kerajaan mana yang lebih dahulu berdiri, kami akan mengatakan Samudera Pasai. Ini dikarenakan banyaknya sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu kita tidak bisa lepas dari pernyataan “No Document, No History”.
Kesimpulan

Adapun kesimpulan yag dapat kami uraikan dari isi makalah ini adalah sebagai berikut: Kerajaan Perlak adalah kerajaan pertama di nusantara yang merupakan hasil dari seminar “Sejarah Masuk dan Merkembangnya Islam di Aceh” yang diselenggarakan pada tahun 1980. Samudera Pasai mempunyai perkembangan yang panjang dan memiliki beberapa peninggalan yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai sumber sejarah. Di antara Kerajaan Perlak dan Samudera Pasai masih menyisakan misteri besar yang belum terkuak.

Sumber:

Alfian, Teuku Ibrahim. 1973. Kronika Pasai: Sebuah Tinjauan Sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah untuk SMA Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Djamil, Muhammad Junus. 2005. Gerak Kebangkitan Aceh. Bandung: C.V Jaya Mukti.

Hardi. 1993. Aceh: Latar Belakang Politik dan Masa Depannya. Jakarta: Rosenda.

Kawilarang, Harry. 2010. Aceh dari Iskandar Muda ke Helsinki. Banda Aceh: Bandar Publishing.

Kong, Yuanzhi. 2000. Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Said, Muhammad. 1979. Aceh Sepanjang Abad Jilid I. Medan: Waspada.

Suryandari. 2008. Bahan Ajar Sejarah. Jakarta: Pratama Mitra Aksara.

http://www.tambeh.wordpress.com.


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Sejarah Universitas Syiah Kuala Angkatan 2012 Banda Aceh – Darussalam.

5 komentar:

  1. Jangan pernah berhenti sampai disini bang . . .
    :)

    BalasHapus
  2. Oke. Silahkan sampaikan kepada kawan-kawan, untuk terus bergiat dalam hal tulisan.

    BalasHapus
  3. kalau menurut saya, kerajaan Islam tertua itu masih kerajaan Perlak kak, karena ada bukti makam dari Sultan Alaiddin Saiyyid Maulana Abdul Aziz Syah (840-864) dan juga peninggalan mata uang yang bergambar putri A'la yang masih disimpan dan dirawat sampai sekarang
    sumber: penjelasan dari dosen+foto yang dikirim oleh dosen yang mengikuti KKL di Aceh
    bagaimana kalau menurut pendapat kakak?

    BalasHapus
  4. kerjaan lamuri di lamreh aceh besar sebagai cikal bakal kerajaan islam pertama di aceh bukan samudra pasai dan bukan kerajaan perlak, catatan laksamana cheng ho dan ibnu batutah serta marco polo telah pernah datang ke kerajaan lamuri pada abad ke 7 ...........

    BalasHapus
  5. kerjaan lamuri di lamreh aceh besar sebagai cikal bakal kerajaan islam pertama di aceh bukan samudra pasai dan bukan kerajaan perlak, catatan laksamana cheng ho dan ibnu batutah serta marco polo telah pernah datang ke kerajaan lamuri pada abad ke 7 ...........

    BalasHapus