Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

4 Februari 2014

Misteri Raja Si Ujud Dalam Hikaya Malem Dagang



Oleh:

Geubrina Rezki

Afzalul Zikrinim

Hikayat Malem Dagang adalah syair kepahlawanan Aceh.Isinya mengisahkan penyerangan Sultan Aceh Iskandar Muda terhadap Portugis yang berkuasa di Malaka.Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Malaka dan keturunannya menyingkir dan mendirikan kerajaan Johor. Sekarang Malaka dan Johor keduanya merupakan dua negara bagian/provinsi di Malaysia.Penyerangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah kenyataan sejarah, baik sebelum masa Sultan Iskandar Muda maupun di saat beliau berkuasa. Dalam disertasi sejarawan Perancis, Denys Lombard yang telah diterjemahkan, disebutkan bahwa “Kerajaan Aceh-zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), juga memuat daftar penyerangan Aceh ke Malaka, yaitu pada tahun: 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606. Pada tahun-tahun itu, Portugis menyerang Aceh.Benteng-benteng mereka masih bersisa di Krueng Raya.Selanjutnya, tahun 1613-1615, Aceh menyerang Johor, karena membantu Portugis.Kemudian, tahun 1617, Aceh menyerang Pahang, karena bersekutu dengan Portugis. Disebutkan pula, pada tahun 1623 dan 1629 M, hal yang sama terjadi.Fakta sejarah ini sedikit sekali disinggung dalam sumber-sumber tertulis Aceh.Di antara yang secuil itu, Hikayat Malem Daganglah satu-satunya. Sementara dalam Hikayat Prang Peringgi (artinya, Hikayat Perang Portugis), sama sekali tidak menyinggung data-data sejarahnya, kecuali semangat jihad saja.Karena Hikayat Malem Dagang (buat selanjutnya disingkat dengan HMD) bukanlah kitab/buku sejarah, muncullah beragam hasil analisis tentang para pelaku dalam kisah itu.Begitu pula mengenai waktu dan lokasi dalam cerita tersebut.Masalah pendapat-pendapat para pengkaji hikayat itulah yang diperbincangkan dalam tulisan ini.

Sejauh yang saya ketahui, Dr. Snouck Hurgronje adalah pengkaji paling awal mengenai HMD. Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan, “Aceh di Mata Kolonialis, jilid II Snouck Hurgronje mengatakan HMD disusun tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, yakni masih di abad ke 17 M. Agaknya, naskah yang dikaji Snouck merupakan salinan ulang yang oleh penyalinnya telah disesuaikan isinya dengan kondisi Aceh saat itu. Kata Snouck: di seluruh hikayat disebutkan bahwa Raja Si Ujud yang dilawan Sultan Iskandar Muda adalah raja Belanda.Pengkaji kedua juga bangsa Belanda, yakni DR.H.K.J.Cowan, dengan bukunya, “De Hikajat Malem Dagang”, diterbitkan tahun 1933.Cowan menegaskan bahwa HMD dikarang pada abad ke 17. Nampaknya, naskah yang dikaji Cowan lebih tua sehingga “Raja Si Ujud sebagai raja Belanda belum dijumpai di dalam naskah itu.Tahun 2006, naskah HMD yang dimuat dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” telah saya salin ke huruf Latin ejaan EYD, yang sebelumnya dalam ejaan Belanda.Tetapi, sampai hari ini hasil transliterasi saya itu belum diterbitkan. Penulisan oleh H.K.J.Cowan akan buku ini terkesan amat serius sehingga semua isi hikayat yang dalam bahasa Aceh telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, di samping pembahasan isinya yang panjang lebar pula. Kajian Cowan inilah yang saya pakai sebagai bahan utama tulisan. Lantaran saya tidak bisa bahasa Belanda, karena itu, saya mintalah bantuan penterjemahannya kepada sahabat saya, Drs. Agus Supriyono,MA, Dosen Fakultas Sastra,Undip-Semarang.Sebelumnya, Prof.A.Hasjmy, yang memperkenalkan kembali HMD secara lebih meluas. Dengan merujuk dua buku Sejarah Johor dan Sejarah Pahang Karya HajI Buyung Adil yang diterbitkan di Malaysia, Hasjmy berkali-kali menulis tentang HMD.Di antara karyanya yang telah dimuat dalam berbagai buku/makalah ialah dalam “Seulawah, Antologi Sastra Aceh-Sekilas Pintas” halaman 524-541, terbitan Yayasan Nusantara tahun 1995.


Berbeda dengan dua pengkaji bangsa Belanda sebelumnya, Hasjmy berpendapat HMD dikarang Teungku Ismail bin Ya’kub alias Teungku Chik Pante Geulima pada tahun 1309 H. Pada pentup HMD dalam buku “De Hikajat Malem Dagang” yang ditulis/disalin Cowan, memang tercantum tahun 1309 H, tetapi saya lebih yakin tahun itu adalah tahun penyalinan ulang. Menyimak gaya penulisannya, maka saat penyusunan pertama HMD lebih tua dari tahun itu.Mengenai asal nama Raja Si Ujud, Hasjmy menulis: Dalam sejarah Aceh, beliaulah yang dimaksud dengan “Raja Si Ujud“, mungkin sekali berasal dari “Raja Selayut“… karena pernah tinggal di Selayut. Menurut saya, nama Raja Si Ujud, Raja Raden dan Putroe Beureuhut-isteri Si Ujud adalam nama-nama khayalan si pengarang HMD. Dalam bahasa Arab, “Wujud” artinya ada.Karena “raja” Portugis di Malaka tidak dikenal lagi, maka disebut saja “Raja itu memang ada alias Raja Si Ujud”.Begitu pula dengan Raja Raden. Akibat nama abang Raja Si Ujud tidak diketahui yang sebenarnya, maka digantikan saja dengan Raja Raden, suatu gelar kehromatan karena Raja Raden memihak Aceh, yakni gelar seorang bangsawan.Sementara nama Putroe Beurehut, malah diberi nama yang menjelekkan. Beureuhut adalah lobang neraka di dunia. Mon Beureuhut(sumur beruhut), menurut kitab Tambeh/nadham Aceh terdapat di wilayah Syam/. Irak.Menurut data-data sejarah, Raja Sebrang kawin dengan saudara perempuan Sultan Iskandar Muda. Sejak itu, ia diharapkan menjadi teman dalam membantu Aceh melawan Portugis. Akan tetapi, ketika Sultan pulang kembali ke Johor (1614), ia telah dengan giat melakukan perundingan lagi dengan Portugis. Tindakan yang kedua kalinya itu tidak memuaskan orang-orang Aceh. Sebab itulah, pada ekspedisi Aceh yang kedua, ia ditangkap kembali, lalu dibawa ke Aceh dan dibunuh di sana.Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat.Armada Aceh mendapati Johor telah ditinggalkan penduduknya.Dalam perjalanan pulang bertemu dengan armada Portugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untuk membantu Johor tetapi dipukul mundur.Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boetanus-Salatin, yaitu pertempuran di Baning.Pada kesempatan itu, Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.


Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Hikayat Malem Dagang, ternyata ditemukan kesamaan. Dalam syair hikayat disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja-raja Johor. Menurut data-data historis, demikian juga.Bahwa kedatangan mereka ke Aceh tidak sepenuhnya secara sukarela.Dalam kedua versi itu disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan adik perempuan Sultan Iskandar Muda. Satunya lagi pulang kembali ke Johor, yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.

Penulis syair hikayat hanya mengatakan bahwa Raja Raden pada suatu hari datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya, yaitu Si Ujud. Hanya beberapa bait yang memberikan episode ini, yang menceritakan bahwa Raja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya dirahasiakan, sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh.Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan kafir, tetapi hanya melakukan persekutuan antara Johor dengan Portugis.

Demikian juga penggambaran orang Aceh tidak benar, antara syair dengan kenyataan adalah berbeda.Pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Johor, sedangkan pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Johor sesudah kepulangan ke Johor itu.Akan tetapi, tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu, kenyataan-kenyataan historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya.

Raja Si Ujud Adalah Salah Satu Tokoh Kisah Perang Portugis Melawan Kerajaan Aceh

Mengenai satu hal semuanya sepakat, yaitu bahwa Raja Sabrang kawin dengan saudaraperempuan Sultan Aceh. Akan tetapi “Sultan” yang pada tahun 1614 tinggal di Djohor telah dengan giat melakukan perundingannya dengan Portugis yang kedua kalinya dan tidakmemuaskan (menyenangkan) orang-orang Aceh, sehingga pada ekspedisi yangkedua di tangkap oleh mereka, dibawa ke Aceh dan di bunuh di sana “ sebab menurut  Atchinder,sama sekali tidak membantu melawan Portugis.Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Acehmendapati Djohor telah di tinggalkan, dalam perjalanan pulang bertemu dengan armadaPortugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untukmembantu Djohor tetapi di pukul mundur. Pertempuran ini diidentifikasi oleh Hoesein Djajadiningrat sebagai pertempuran yang disebutkan dalam Boestanus-Salatin di Baning (Hoesein, op. cit, hlm. 180).Pada kesempatan itu atau tidak lama sesudahnya Sultan ditangkap kembali dan dibawa ke Aceh.Jika data-data ini dibandingkan dengan cerita dari Malem Dagang, ternyata kami temukan kesamaan. Dalam syair disebutkan kedatangan dua raja bersaudara ke Aceh, yang antara lain bergelar sebagai raja2 Djohor. Menurut data-data historis demikian juga halnya, bahwa kedatangan mereka ke sana tidak sepenuhnya secara sukarela. Dalam kedua cerita (versi) itu juga disebutkan bahwa salah satu dari mereka kawin dengan saudara Sultan Aceh., dan satunya lagi pulang kembali ke Djohor ,yang selanjutnya setelah banyak melakukan tindakan yang kurang berkenaan bagi orang-orang Aceh, ia ditangkap oleh ekspedisi dan dibunuh.


Hal-hal yang khusus dari ekspedisi ini juga menunjukkan adanya kesamaan: dalam kedua peristiwa itu armada menemukan Sultan melarikan diri, dan oleh karena itu kota (Djohor) diduduki. Dalam pertempuran berikutnya di Baning melawan Portugis dalam perjalanan pulang, ditemukan kembali dalam syair sebagai perang laut di “Laot Banang”. Bahkan namanya juga sama, pada mana harus dinyatakan bahwa “Baning” dan “Banang” sama-sama dituliskan dalam karakter bahasa Arab.

Alasan kedatangan dua bersaudara di Aceh tidak disebutkan dalam Malem Dagang. Penulis syair nampaknya hanya ingin mengatakan bahwa Radja Raden pada hari tertentu datang dan diikuti oleh saudara laki-lakinya yaitu Si  Ujut. Hanya beberapa redaksi yang memberikan episode, yang menceritakan bahwa Radja Raden datang untuk memeluk agama Islam. Tidak ada penjelasan lebih jauh bahwa ia berangkat ke Aceh dengan keperluan khusus. Bisa diperkirakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya tersembunyikan (rahasiakan) Sehubungan dengan perkawinannya dengan keluarga Sultan Aceh.

Kedua raja itu dalam kenyataan sesungguhnya bukan sama sekali tidak beragama (kafir) sehubungan adanya persekutuan antara Djohor dengan Portugis.

Demikian juga bagaimana penggambaran orang Aceh menjadi tidak berkenan (marah), antara syair dengan kenyataan adalah berbeda; pada satu sisi perundingan-perundingan berlangsung di Aceh sebelum kembali ke Djohor, pada sisi yang lain perundingan-perundingan terjadi di Djohor sesudah kepulangan ke Djohor itu.Akan tetapi tidak boleh diabaikan bahwa dalam syair kepahlawanan yang setengah lagendaris itu kenyataan2 historis telah kehilangan bentuk yang seharusnya.Kesesuaian secara keseluruhan atau bahkan pada bagian yang khusus/ penting saja tidak diharapkan.

Namun demikian nampaknya sangat bisa diterima bahwa inti dari Hikayat Malem Dagang adalah pengiriman ekspedisi pada tahun 1615 ke Djohor, dan itu adalah yang kedua, sebab Sultan yang di kembalikan ke Djohor telah bersekongkol dengan Portugis. Bagian awal syair adalah hasil dari ekspedisi sebelumnya yaitu yang berlangsung pada tahun 1613, yaitu kedatangan kedua raja yang di tawan itu di Aceh, tetapi dengan perbedaan, bahwa kedatangan ini dalam syair digambarkan sebagai kedatangan sukarela, dan diperkirakan bahwa tokoh Radja Raden dan Si Oedjoet menggantikan nama kedua raja tersebut.

Akan tetapi masih ada persoalan mengenai kedua raja itu, yaitu siapakah sesungguhnya yang Radja Raden dan yang Si Oedjoet itu.Jika mengikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat maka Alaedin sendirilah yang tidak lama sesudah penangkapannya diperbolehkan kembali ke negerinya, sementara Raja Abdoelaah (R. Sabrang) yang kawin dengan perempuan Sultan Aceh.Dan tetap tinggal di Aceh adalah Radja Raden.

Raja Sabrang dan Si  Ujut = Alaedin. Akan tetapi hal itu bertentangan dengan pendapat Roeffaer, bahwa Radja Sabrang di kirim kembali (pulangkan) sebagai pengganti saudara laki-lakinya, yang berarti itu adalah Radja Raden.

Alaedin dan Si Oedjoet = Radja Sabrang. Namun harus di sadari, meskipun suatu Epos itu berdasarkan pada peristiwa sejarah, harus diakui adanya karakter yang bersifat sangat lagendaris. Data-data darinya memang bisa diambil untuk mengisi kekosongan-kekosongan (data) dalam pengetahuan sejarah- yang untuk itu orang harus sangat berhati-hati demikian juga hal itu ditemukan argumentasi yang mengkritisi hikayat Malem Dagang, yaitu pendapat Hoesein dan Rouffaer yang sebelumnya.

Pertama adalah adanya saling hubungan famili: Alaedin adalah kakak laki-laki Radja Sabrang (lihat.al. Valentijn. Beschrijving van Malaka, hlm.331), kemudian salah satu nama dari Radja Sabrang berbunyi : “Radja Bungsoe” yang berarti “termuda”. Demikian juga persaudaraan itu hanya bersifat pengakuan saja, sama yang seperti tersebut dalam Sedjarah Melajoe. Diperkirakan juga bahwa penangkapan hubungan persaudaraan adik dan kakak ini karena yang terakhir itu adalah yang sesungguhnya  sebagai raja yang memerintah. Hal ini banyak sekali disebutkan/ dikuatkan Sedjarah Melajoe. Dalam Hikayat Malem Dagang Si  Ujut memanggil Radja Raden dengan sebutan “dalem” yaitu berarti “saudara tua” dan sebaliknya Radja Raden Memanggil Si Oedjoet dengan sebutan “adoe” yang berarti “saudara muda”.

Masih ada dipastikan adanya kesamaan yang menarik antara nama Radja Radendengan yang oleh Eredia dalam tulisannya “Informacao” diberikan kepada AlaedinYaitu ”Radja Rade”. Apakah ini kebetulan atau bukan?Apakah dalam surat C.S. Van da Veer ”Radja Radjoe” adalah Alaedin?Akhirnya terdapat keanehan ( tabiat ) khas dari kedua raja itu, sejauh yang diperoleh.

Dari berita-berita.Secara umum berita-berita itu menjelaskan bawa Alaedin adalah pengantuk dan raja yang tidak punya karakter, yang mengabaikan pemerintahannya danMenyerahkannya kepada saudara laki-lakinya Radja Sabrang, yang mempunyai sifat sebaliknya yaitu orang yang tertegas dan terpercaya. Adalah aneh bahwa Alaedin yang pengantuk ini, yang di kembalikan oleh Sultan Aceh dan di bawah pengawasan orang Aceh, tiba-tiba melakukan gerakan melawan Aceh, sementara ia juga harus kehilangan dukungan dari saudaranya. Karakter yang demikian itu lebih cocok bagi Radja Sabrang.

Tetapi bertentangan dengan yang tersebut di atas masih terdapat beberapa kesulitan untuk dipahami.Demikianlah menurut Malem Dagang bahwa Radja Raden (dalam hal ini adalah Alaedin), tetapi menurut data-data historis adalah Radja Sabrang (dalam hal ini adalah si Oedjoet) menikah dengan saudara perempuan Iskandar muda. Dalam hal ini masih bisa dipertanyakan, karena berdasarkan berita-berita Eropa lama hanya berbicara mengenai penangkapan Radja Sabrang pada tahun 1613, dan tidak ada keterangan dari berita-berita itu mengenai adanya perkawinan. Oleh karena itu harus di terima bahwa kedua saudara itu memang ditawan dan dibawa ke Aceh, tetapi lebih mungkin bahwa bukan Radja Sabrang yang dinikahkan, akan tetapi Alaedin. Namun demikian Argumen ini juga belum bisa dikatakan kuat.

Kemudian masih ada kesulitan yang berikut ini:

Berdasarkan surat C.S. van der veer, sehubungan dengan berita-berita yang lain, bahwa Sultan Djohor yang dipulangkan kembali sesudah ekspedisi yang pertama melawan Djohor tahun 1613, pada ekspedisi yang ke dua tahun 1615 ditangkap dan dibunuh di Aceh, dan sesudah itu ia digantikan oleh Radja Bungsu (Abdullah). Berdasarkan berita ini maka Alaedinlah yang dipulangkan kembali dan sesudah itu ditangkap kembali dan akhirnya dibunuh.

Sementara Radja abdoellah, yang kemudian tampil sebagai Radja memerintah dengan gelar “Sultan Abdoellah Ma’ajat Sjah” yang juga ternyata bernama “Hammat Sjah” pada tahun 1623 meninggal di kepulauan Tambela, yang menurut surat pemerintah Hindia kepada Heeren XVII tertanggal 3 Januari 1624 disebabkan oleh karena kesedihan yang sangat mendalam.

Sebelum itu ia pertama-tama melarikan diri ke Bintan dan selanjutnya ke lingga. Di tempat itu ia diusir oleh orang-orang (prajurit) Aceh, dan akhirnya ia sampai ke Tambela dan mati. Diperkirakan sebagai alasannya mengapa ia dimusuhi oleh Aceh, adalah karena ia telah mencerai/ mengembalikan isterinya (yang adalah adik Iskandar muda) ke Aceh.

Apabila orang berpegang kepada kesimpulan Rouffaer, bahwa bukan Alaedin akan tetapi Radja Seberanglah yang dipulangkan ke Djohor itu, maka berita dari surat van der veer yang menyebutkan bahwa Radja Boengsoe telah menggantikan saudaranya yang di tangkap dan dibunuh haruslah di koreksi.

Demikian juga bahwa pergantian itu tidak terjadi pada tahun 1615 sesudah ekspedisi ke dua, tetapi sudah terjadi pada tahun 1613 sesudah ekspedisi pertama (sesudah pengiriman atau pemulangannya ke Johor).tetapi masih banyak hal lain yang perlu di pertanyakan yaitu bahwa kematian Abdoellah ma’ajat di kepulauan Tambela pada tahun 1623 tidak sesuai dengan berita, bahwa Radja yang di pulangkan pada tahun 1613 atau 1614 masih di tangkap dan dibunuh di Aceh pada tahun 1615.

Berdasarkan keraguan-keraguan yang telah disebutkan di muka (H. K. J. Cowan) apakah saya akan mengikuti salah satu pendapat tersebut di atas, yaitu sehubungan dengan persoalan identifikasi bahwa Radja Raden adalah Alaedin dan si Oedjoet adalah Radja Sebrang atau sebaliknya. ternyata keraguan itu menjadi lebih besar setelah saya mengetahui isi hikayat (tulisan tangan) yang ada pada saya. Menurut redaksinya si Oedjoet tidak di bunuh di Aceh, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari penjara dean via Banang ia berhasil tiba di Goeha, dan di sana ia diterima dengan suka cita oleh isteri-isterinya.

Tidak lama setelah itu ia meninggal dunia, setelah dimakamkan, isterinya-isterinya mengirim orang ke Aceh untuk memohon kepada Radja Raden untuk menjadi penggantinya. Sultan Iskandar muda menyetujui permintaan itu dan menyuruh saudara perempuannya (Poetroe Hidjo) ikut pergi dengan Radja Raden ke Djohor. Tetapi ia ditinggalkan di Djohor lama, sedangkan Radja Raden melanjutkan perjalanan melalui Djohor Bali ke Goeha. Kelima isteri si Oedjoet menerima/memeluk Islam.Sampai disini ada kekosongan (hilang) sebanyak 2.5 halaman dalam hikayat sehingga kelanjutan cerita menjadi sangat tidak jelas.

Ada dibicarakan mengenai seorang “Teungku” yang dalam petualangannya sampai   Johor lama, dan disitu ia menjadi sangat terkenal. Pada suatu hari ia di panggil oleh “Malem” untuk menjalankan ibadah shalat jum’at di mesjid, tetapi nampaknya ia tidak mau, sebab menurutnya bukan hari jum’at (disini ada kekosongan halaman lagi). Selanjutnya cerita di mulai lagi dengan percakapan antara “Teungku” dengan Putroe hidjo, yang ternyata keduanya berjanji untuk pergi secara diam-diam.

Pada suatu malam ia di suruh menenggelamkan kapal di sungai satu persatu dengan menggunakan bor, sementara ia sendiri berlayar ke pulau Weh. Sampai disana “Teungku” memberi tahu bahwa ia ingin menjual barang berharga (mahal), yang oleh karena itu Sultan Iskandar muda berangkat ke kapal itu (Tengkoe). Ketika ia melihat saudara perempuannya, keduanya jatuh pingsan. Selanjutnya keduanya dibawa masuk sebagai satu-satunya hadiah “Tengkoe” ingin menerima (menginginkan) pembebasan anak-anaknya, dan sampai disini tulisan tangan (Hikayat) tiba-tiba berakhir.

Apa yang harus kita lihat dalam episode ini? Mengenai adanya penambahan fantastis oleh penyalin hikayat, memang hal semacam itu sering terjadi. Atau apakah kita dalam hal ini bisa mengetahui gema (informasi) yang mengakibatkan dilaksanakannya ekspedisi Aceh ke tiga terhadap Sultan Djohor pada tahun 1623, dimana raja yang tersebut terakhir itu di kejar sampai Lingga dan Tambela, pada tahun itu juga akhirnya ia meniggal?

Sesungguhnya mengenai hal itu kita bisa menemukan dalam berita-berita sejarah mengenai pemulangan kembali ke Aceh saudara perempuan Iskandar muda yang telah menjadi isteri Radja Djohor oleh Radja Djohor. Selanjutnya episode ini bisa sesuai dengan data historis, bahwa saudara laki-laki yang lain telah menggantikannya, dan pergantian itu terjadi sesudah berhasilnya ekspedisi tahun 1615, yaitu sesudah meninggalnya saudara laki-lakinya yang lain.

Jika kesesuaian ini bukan merupakan kebetulan, mengingat menurut data historis Abdoellah adalah yang menggantikannya, maka Radja Raden dalam hikayat yang kami punya adalah sama dengan Radja Abdoellah dan yang berarti juga si Oedjoet. Dengan demikian juga benarlah pendapat Hoesein Djajaningrat, bahwa Alaedin sendiri adalah yang di pulangkan ke Djohor, sementara pendapat Roeffaer tidak benar.

Bagaimanapun meragukannya nilai historis dari episode ini, tetapi sangatlah mengecewakan bahwa kelanjutan sejarah ini tidak ada. Sebab ada juga di dalamnya terjadi pengabaian hal ini dan kepulangan adik Iskandar Muda yang menyebabkan bagi ekspedisi Aceh ke tiga, kemudian mengakibatkan pelarian dan pengejaran Radja Raden, dan akhirnya sampai pada kematiannya.

Oleh karena itu, saya tidak berani secara definitif menyamakan antara kedua Radja Djohor itu dengan seperti kedua Radja yang baru di sebut dalam sejarah. Namun demikian sepenuhnya saya berani menyatakan telah berhasil membahas hikayat Malem Dagang sesuai dengan skope temporal (kontek waktunya) yang seharusnya dan menunjukkan peranan Radja Raden dan si Oedjoet kepada yang tidak lain kedua Radja bersaudara dari Djohor, dan kemungkinan pembagian peranan dari keduanya.

Saya memang tidak berhasil mengidentifikasi tokoh utama, yaitu Malem dagang sendiri. Barangkali ia hanya tokoh lokal yang kehebatannya tidak menjadi terkenal, mengingat tidak di ragukan lagi bahwa Sultan Iskandar muda lah yang terkenal di dunia luar sebagai pemimpin ekspedisi. Oleh karena itu, orang-orang Eropa pun  tidak mau memberitakannya, meskipun hanya sebagai orang pribumi.

Mungkin dalam Malem dagang harus dilihat seorang tokoh yang dimaksud oleh Prof. Veth sebagai laksamana dari armadanya Iskandar muda, yang pernah memimpin prajurit Hindia.Tetapi data-data tentang itu tidak memberikan kepastian.Laksamana ini ikut dalam penyerangan terhadap orang-orang Portugis dalam penyerangan Malaka pada tahun 1628 atau 1629.demikian juga penyebutan namanya tidak memberikan pegangan yang kuat.

Mengenai perhitungan tahunnya, tidaklah sedemikian sulit, karena orang ini memang panglima yang telah pernah memimpin ekspedisi-ekspedisi sebelumnya, sementara penyair telah membingungkan/mengacaukan dalam berbagai ekspedisi.Tetapi hal itu tidak lebih dari suatu perkiraan semata, dimana saya sendiri juga menjadi kurang percaya.

(Tulisan di atas adalah terjemahan Kata Pengantar H.K.J. Cowan  pada kajian   “De Hikajat Malem Dagang”  yang diterbitkannya  tahun 1933.  Penterjemah dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia  dilakukan  oleh Mas Agust Supriyono alias Dr. Agust Supriyono, MA, Dosen FIB  Undip, Semarang, yakni sahabat akrab saya pada Program Cangkokan Mahasiswa Sejarah, beasiswa Kerjasama Indonesia – Belanda di UGM Yogyakarta. Proses penterjemahan, mulai saya kirim bahan ke Semarang sampai saya terima hasil terjemahan di Banda Aceh dan kerja editan membutuhkan waktu sekitar setahun:  T.A. Sakti).

Kesimpulan

Mengenai satu hal semuanya sepakat, yaitu bahwa Raja Sabrang kawin dengan saudaraperempuan Sultan Aceh. Akan tetapi “Sultan” yang pada tahun 1614 tinggal di Djohor telah dengan giat melakukan perundingannya dengan Portugis yang kedua kalinya dan tidakmemuaskan (menyenangkan) orang-orang Aceh, sehingga pada ekspedisi yangkedua di tangkap oleh mereka, dibawa ke Aceh dan di bunuh di sana “ sebab menurut  Atchinder,sama sekali tidak membantu melawan Portugis.Adalah penting untuk menyelidiki ekspedisi kedua ini secara lebih cermat. Armada Acehmendapati Djohor telah di tinggalkan, dalam perjalanan pulang bertemu dengan armadaPortugis di bawah pimpinan Miranda dan Mendoca, yang datang dari Malaka untukmembantu Djohor tetapi di pukul mundur.

Inti dari Hikayat Malem Dagang adalah pengiriman ekspedisi pada tahun 1615 ke Djohor, dan itu adalah yang kedua, sebab Sultan yang di kembalikan ke Djohor telah bersekongkol dengan Portugis. Bagian awal syair adalah hasil dari ekspedisi sebelumnya yaitu yang berlangsung pada tahun 1613, yaitu kedatangan kedua raja yang di tawan itu di Aceh, tetapi dengan perbedaan, bahwa kedatangan ini dalam syair digambarkan sebagai kedatangan sukarela, dan diperkirakan bahwa tokoh Radja Raden dan Si Oedjoet menggantikan nama kedua raja tersebut.

Sumber:

Djamil Junus,Muhammad. Gerak Kebangkitan Aceh: 2005.

http://www.tambeh.wordpress.com.


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Sejarah Universitas Syiah Kuala Angkatan 2012 Banda Aceh – Darussalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar