Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

3 Desember 2012

Filipina Di Bawah Penjajahan Spanyol


Oleh: Chaerol Riezal

Pendahuluan

Filipina merupakan salah satu negara Asia Tenggara yang berada di laut Cina Selatan. Filipina berada di sebelah utara Malaysia dan Indonesia. Sama halnya dengan Indonesia, Filipina juga merupakan Negara kepulauan dan salah satu Negara di Asia yang terpengaruh budaya barat dan dikenal mempunyai Gereja Katolik Roma yang kuat dan merupakan salah satu dari dua Negara yang didominasi  umat katolik di Asia selain Timor Timur.


Filipina adalah negara paling maju di asia setelah perang dunia II, namun sejak saat itu telah tertinggal di belakang Negara - negara lain akibat pertumbuhan ekonomi yang lemah, penyitaan kekayaan yang dilakukan pemerintah, korupsi yang luas, dan pengaruh - pengaruh neo-kolonial. Saat ini Filipina mengalami pertumbuhan ekonomi yang moderat, yang banyak disumbangkan dari pengiriman uang oleh pekerja - pekerja Filipina di luar negeri dan sektor teknologi informasi yang sedang tumbuh pesat.

Bentuk pemerintahan Filipina mengikuti pemerintahan Amerika Serikat. Filipina ditata sebagai sebuah republic, dimana presiden berfungsi sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Presiden dipilih dalam pemilu untuk masa jabatan 6 tahun, dan memilih serta mengepalai kabinet. Dewan Legislatif Filipina mempunyai dua kamar. Kongres terdiri dari senat dan Dewan Perwakilan, angota keduanya dipilih oleh pemilu. Ada 24 senator yang menjabat selama 6 tahun di senat, sedangkan dewan perwakilan terdiri dari tidak lebih dari 250 anggota kongres yang melayani selama 3 tahun. Cabang yudikatif pemerintah dikepalai oleh Mahkamah Agung, yang memiliki seorang Ketua Mahkamah Agung sebagai kepalanya dan 14 Hakim Agung, semuanya ditunjuk oleh presiden.

Filipina merupakan anggota aktif dari PBB sejak penerimaannya pada 24 Oktober 1945. Filipina juga merupakan Negara pendiri ASEAN, dan merupakan pemain aktif dalam APEC, Latin Union dan anggota dari Group of 24. Filipina juga merupakan sekutu Amerika Serikat, tetapi juga merupakan anggota dari Gerakan Non Blok.

Filipina bersengketa dengan Republik Cina (Taiwan), Republik Rakyat Tiongkok, Vietnam dan Malaysia atas Minyak dan gas alam di kepulauan Spartely dan Scarborough Shoa dan dengan Malaysia atas Sabah. Sultan sulu yang menerima sabah sebagai hadiah pada 1703 setelah menolong sultan Brunei mengalahkan pemberontak, telah memberikan pemerintah Filipina kuasa untuk mengklaim wilayahnya yang hilang. sampai saat ini, keluarga Sultan Sulu masih menerima pembayaran “sewa” untuk sabah dari pemerintah Malaysia.

Oleh karena itu, penulis membuat makalah mengenai Filipina karena untuk memenuhi tugas yang telah diberikan pada mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Di sini, penulis mengungkapkan urutan sejarah Filipina, dalam makalah ini akan menguraikan mengenai penjajahan bangsa Spanyol di Filipina.

Kedatangan Bangsa Spanyol Di Filipina

Latar belakang kedatangan bangsa Spanyol ke Filipina adalah karena keberhasilan Sultan Muhamad al-Fatih menaklukan Konstantinopel pada 1453 yang dilanjutkan dengan blockade perdagangan kerajaan Turki Utsmani di Laut Tengah terhadap pedagang-pedagang Eropa Barat sehingga Bangsa Barat mencari daerah produsen rempah-rempah. Dengan keberhasilan Spanyol dan Portugis menghalau dan menghancurkan kekuatan Islam di semenanjung Iberia tahun 1942, membuat Portugis dan Spanyol berkembang menjadi kekuatan “Pelindung agama Kristen” yang direstui Paus di Roma untuk menaklukan daerah-daerah baru untuk dikristenkan. Agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari antara Spanyol dan Portugis maka Paus Alexander pada tahun 1494 di Todersillas membut perjajian yang dikenal dengan Perjanjian Todersillas yang berisi membagi dunia menjadi dua. Daerah-daerah di sebelah barat garis Todersillas menjadi milik Spnyol dan bagian timur milik Portugis.

Tahun 1521 Ferinand de Magelhaens seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk Raja Karel V dari Spanyol berhasil mendarat di Pulau Cebu di Filipina. Atas nama Raja, sesudah upacara Missa dipasanglah sebuah salib sebagai tanda bahwa tanah itu dijadikan bagian dari kerajaan Spanyol Raya. Konflik pun terjadi antara penduuk asli dengan para pendatang asing ini. Dalam pertempuran Magelhaens tewas. Sisa anak buahnya kembali ke Spanyol untuk melaporkan semua yang terjadi. Mereka menamakan kepulauan yang telah mereka temukan itu dengan nama Pulau St. Lazarus.

Pada mulanya raja kurang memperhatikan atas kepulauan ini, karena sedang sibuk membendung kekuatan Protestanisme di negerinya. Baru pada tahun 1526 raja mulai memikirkannya, kemudian mengirimkan sebuah tim yang dipimpin oleh Fernando Cortez, penakluk Mexico untuk menyelidiki kepulauan ini. Dua orang anak buahnya meninggal. Pada tahun 1542 berangkatlah Laksamana Ruy Lopez dan Vilalobos dari Puerta Navidad (Mexico) ke Filipina. Vilalobos menganti nama kepulauan St. Lazarus menjadi Philipinese sebagai tanda kehormatan kepada putera mahkota Don Philips II, putera Maharaja Karel V. Setelah secara resmi berkuasa mengganti ayahnya, Philips II mencurahkan semua kekuatannya untuk menguasai kepulauan yang dinisbatkan pada namanya.

Masa Penjajahan Spanyol Di Filipina

Proses penjajahan Spanyol di Filipina adalah melakukan perlawanan dengan penduduk asli yang telah beragama Islam maka orang Spanyol menyebut mereka dengan bangsa Moro. Sepanjang sejarah kolonialisme Spanyol di Filipina orang-orang Moro di Selatan tidak pernah sama sekali dapat ditaklukan dan ditundukan. Tercatat paling tidak terdapat enam kali periode peperangan antara bangsa Moro dengan Spanyol.

Perang Moro I, diawali dengan kedatangan bangsa Spanyol pada tahun 1565 yang dipimpin oleh Don Miguel Lopes de Lagaspi dan berakhir ketika mereka berhasil menjajah Brunei Darusslam di Borneo pada tahun 1578. Dua tahun kemudian peperangan berlanjut kembali, pasukan Lagaspi berhasil mengalahkan Raja Sulaiman, kepala pemerintahan di Manila dan menyerahnya Raja Lakadula yang memerintah di Tondu. Sejak saat itu secara resmi Filipina dijajah Spanyol.

Perang Moro II tahap ini berlangsung antara tahun 1587-1599. Perang Moro III dimulai dengan penyerangan kaum Muslim ke Kepulauan yang telah dikuasai Spanyol. Berakhir pada tahun 1635, ketika Spanyol atas bantuan orang-orang Jesuit berhasil membuat benteng kuat di Zamboanga.

Perang Moro IV dititikberatkan pada keberhasilan Sultan Nasrudin dalam mempersatukan kaum muslim yang tersebar di berbagai pulau di bawah kepemimpinannya dalam sebuah perjanjian persekutuan pada tahun 1645. Beberapa daerah yang bergabung antara lain: Lanao, Zamboanga, Davao, Cotabato, Cagayan de Auro dan Bukitnon. Pada tahun 1656, Sultan Nasrudin mengumandangkan seruan jihad kepada seluruh kaum muslim untuk memerangi Spanyol. Pada tahun 1663 Spanyol berhasil diusir dari wilayah Zamboanga dan berjanji tidak akan melakukan intervesi terhadap sultan-sultan di wilayah selatan.

Perang Moro V berkecamuk sejak tahun 1718, ketika pasukan Spanyol ingin mencoba lagi menaklukan Zamboanga dan berakhir ketika Spanyol berhasil menaklukan ibukota Kesultanan Sulu, Jolo. Perang Moro VI pecah pada tahun 1851 ketika Spanyol menduduki ibukota Sulu, Jolo dan berakhir dengan perjanjian yang dipaksakan paa tahun 1876. Tahap akhir Perang Moro ini tidak berarti perlawanan kaum Muslim padam, diberbagai tempat berkecamuk perlawanan terhadap Spanyol pada tahun 1898, ketika pasukan Amerika Serikat berhasil mengusir Spanyol dari Filipina. Filipina pun memasuki era baru di bawah penjajahan Amerika Serikat. Di bawah penjajahan Amerika Serikat kekuatan Islam nyaris lumpuh sama sekali, kecanggihan persenjataan dan altileri tentara Amerika Serikat telah berhasil meruntuhkan sebagian milisi Islam.

System penjajahan Spanyol di Filipina dilakukan dengan kegiatan misi dan kerja-kerja sosial. Di wilayah utara para padri sangat giat untuk mewujudkan pusat-pusat katolik. Disekeliling geraja dan biara, didirikan bangunan-bangunan sekolah college’s, badan-badan amal dan sebagainya. Mereka juga giat melakukan kerja sosila seperti membuat jembatan, jalan raya dan saluran-saluran air. Maka dalam waktu singkat bermunculan desa-desa katholik. Kecuali membawa pengaruh barat, para paderi menggunakan adat-istiadat setempat untuk tujuan. Misalnya, mereka menerjemahkan kitab suci Injil ke dalam bahasa Tagalok untuk memudahkan cara penggunaannya bagi penduduk asli Filipina. Para paderi juga diberi hak untuk menguasai tanah-tanah yang luas. Lambat laun, kekuatan ekonomi dan perdagangan dunia serta harga-hrga tanah menjadi mahal, membanjirlah dari Eropa para paderi Katolik yang lebih mengutamakan urusan duniawi daripada tugas keagamaannya. Mereka lama kelamaan menjadi tuan tanah yang serakah yang mampu mengintimidasikan penduduk karena kekayaan mereka. Mereka menggencet dan memeras para petani Filipina. Tanah-tanah rakyat mereka ambil begitu saja. Pada zaman ini struktur kekuasaan secara politis masih dipegang oleh pemerintah Spanyol. Namun, kekuatan sosial ada di tangan kaum paderi.

Kepincangan sosial melahirkan kemiskinan di kalangan rakyat dan oleh Joze Rizal diabadikan dalam bukunya Noli Me Tangere (Jangan Sentuh Aku) yang berkisah tentang kebusukan dan kesewenang-wenangan pemerintahan Spanyol serta penindasan para pemimpin Gerja Katolik. Tanah-tanah milik rakyat dikuasai seenaknya oleh kaum paderi, tetapi pemerintah Spanyol mencegahnya. Karena bangsa Filipina dianggap tidak lebih dari hewan yang mereka sebut Indio. Para Inio hanya berharga di mata orang Spanyol karena mereka mempunyai tenaga untuk diperas dan tanh-tanah untuk dikuasai. Uantuk melangengkan kekuasaaannya kaum paderi katolik berusaha menguasai pemerinthan melalui pejabat-pejabat yang banyak melakukan kesalahan. Dengan senjata pengampunan dosa para paderi berhasil memaksa mereka untuk berpangku tangan pada setiap kegiatan gereja yang merugikan penduduk pribumi. Bila pejabat itu membangkan, mereka dapat dipermalukan dalam setiap khotbah di gereja-gereja dan tidak diberi pengampunan dosa.

Kekayaan semakin bertumpuk di tangan para pemimpin gereja. Dengan kekayaan itu mereka berhasil mempertahankan kedudukannya sebagai penguasa disamping pemerintah Gubernur Jenderal yang memerintah dari istana Malacanang, yang tidak patuh pada keinginan gereja, dengan mudah di copot karena pengaruh Gereja sudah sampai di Madrid. Kedaaan ini terus menerus berlangsung berabad-abad selama Filipina berada di bawah penjajahan Spanyol.

Masa Pendudukan Amerika Di Filipina

Penguasaan Filipina oleh Anerika mendapat kecaman dari bangsa Eropa karena ditangkap telah melanggar Doktrin Monroe, yang isinya mengatakan bahwa Amerika anti Kolonialisme dan Imperalisme. Amerika dianggap sebagai ancaman baru bagi bangsa Eropa atas kekuasaannya di Asia. Untuk meredakan kecaman tersebut, Amerika menyatakan Filipina semata-mata untuk menjalankan eksperimen imperialisme. Artinya Filipina akan dijadikan model negara dengan sistem kekuasaan liberal seperti Amerika di wilayah Asia.

Pada tahun 1919 delegasi Filipina di bawah Manuel Quezon pergi ke Amerika untuk menuntut kemerdekaan penuh atas Filipina. Amerika menjawab dengan mengirimkan The Wood Forbes Mission tahun 1922, yang isinya menyatakan bahwa Filipina belum mampu untuk merdeka. Bangsa Filipina menolak ucapan Wood Forbes. Senat Filipina meletakan jabatannya, dan menuntut kemerdekaan penuh.

Masa kekuasaan Amerika di Filipina berlangsung dari tahun 1898 sampai tahun 1946. masa kekuasaan itu terbagi atas 3 periode seperti di bawah ini:

1.      Periode Tahun 1898-1942

Amerika melakukan pembinaan terhadap system kekuasaan yang akan diterapkan di Filipina melalui perjanjian damai dengan para tokoh nasionalis pada tahun 1907. Isinya, antara lain menjamin kemerdekaan Philipina untuk 50 tahun yang akan datang.

2.      Periode Tahun 1942-1945
Amerika mengalami kekalahan di Pasifik yang mengakibatkan Filipina dikuasai oleh Jepang. Pada tanggal 2 Januari 1942 Manila, ibu kota Filipina, jatuh ke tangan Jepang. Jendral Deuglas Mac Arthur meninggalkan Filipina untuk menyusun pasukan sekutu di Australia. Pada tanggal 6 Mei 1942 seluruh Filipina jatuh ke tangan Jepang.

Kekalahan Jepang untuk pertama kalinya adalah dalam pertempuran di laut Karang, yang merupakan titik balik bagi kemenangan Jepang. Sejak itu Jepang menggunakan bangsa Filipina sebagai teman di bawah Presiden Laurel untuk menghadapi sekutu. Tetapi dengan mendaratnya Sekutu di Filipina, dan kemudian kalahnya Jepang terhadap Sekutu maka Republik Filipina membuat Jepang lenyap kembali (22 Oktober 1945).

Setelah Perang Dunia II selesai, Amerika Serikat menepati janjinya untuk memberi kemerdekaan kepadaan Filipina. Pesawat terbang jepang berhasil menenggelamkan kapal perang Price of wales dan Repulse di Laut Natuna tahun 1942, menyebabkan tentara Sekutu merosot. Tak lama kemudian Amerika Serikat membuat pesawat terbang B29 untuk menggempur Jepang dengan menjatuhkan bon atom di Hiroshima dan Nagasaki. Maka berakhirlah Perang Dunia II, lebih cepat dari yang diperkirakan.

3.      Periode tahun 1945-1946

Jepang mengalami kekalahan dari sekutu, berarti kekuasaan Amerika masuk kembali di Filipina.

Nasionalisme Di Filipina

A.    Sebab-Sebabnya 

Kebangkitan nasionalisme Flipina termasuk yang tumbuh lebih awal di bandingkan dengan kebangkitan nasionalis negara-negara asia tenggara lainnya. Hai itu dilatar belakangi oleh system pemerintahan kolonial yang melaksanakan dua model kekuasaan, sebagai berikut : 

1.      Pemerintah sipil dipimpin oleh Gubernur Jenderal dan bertanggung jawab langsung kepada Raja Spanyol.

2.      Pemerintahan agama dipimpin oleh Uskup dan bertanggung jawab langsung kepada Paus di Roma. Peran pemerintahan agama sangat membantu rakyat Filipina dalam menumbuhkan kesadaran sebagai bangsa karena system pemerintahan itu berfungsi untuk mendidik rakyat sebagai missionaries dalam penyebaran agama Katolik di Filipina.

            Sebab-sebab timbulnya nasionalisme di Filipina antara lain :

1.       Imperialisme Spanyol yang bertindak kejam dan kolot. Tidak ada kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. Setiap tuntunan mengenai-mengenai perbaikan pemerintahan, dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Spanyol dan dihukum secara kejam.

2.      Lahir kaum inteletual atau golongan terpelajar. Datangnya bangsa Spanyol yang menyebarkan agama katolik Roma, akan membawa Bangsa Filipina ke cara-cara hidup Eropa, sehingga menggantikan cara hidup asli. Pendidikan Filipina termasuk maju, dibandingkan dengan negara-negara Asia, karena mendapat pendidikan dengan system negara Barat. Pendidikan tersebut menimbulkan golongan pelajar yang tau bahwa mereka dijajah. Mereka ingin merdeka. 

3.      Penguasa gereja yang mengekang kehidupan bangsa Filipina. Sebagian besar tanah Filipina milik biara, sehingga para petani Filipina hanya sebagai penyewa tanah belaka. Hidup para petani sangat menderita.

4.      Pengaruh paham-paham baru seperti demokrasi dan liberalisme. Pembukaan Terusan Suez mempermudah hubungan Eropa dan Asia. Oleh karena itu buku yang memuat paham demokrasi dan liberalisme dengan mudah masuk ke Asia, termasuk ke Filipina. Sebaliknya banyak orang Asia pergi ke Eropa, sehingga mengenal Nasionalisme Barat, yang dibawa ke Filipina.

5.      Pengruh revolusi kemerdekaan di Amerika Latin yang menentang imperialisme Spanyol. Diantaranya adalah Perang Kemerdekaan Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan terhadap bangsa Spanyol (1810-1828), membuka mata bangsa Filipina bahwa Spanyol dapat dikalahkan.

A.    Gerakan Nasionalisme Filipina


1.      Companerismo

Companerismo artinya persahabatan, merupakan gerakan nasional yang pertama di Filipina yang lahir pada tahun 1880, tujuannya adalah mengusahakan pendidikan yang patriotis.

2.      Liga Flipina

Liga Filipina didirikan oleh Jose Rizal pada tahun 1982. tujuannya mempersatukan Filipina untuk menentang penjajah Spanyol. Ia merupakan pelopor kemerdekaan dan perlawanan nasional Filipina. Ia seorang dokter, ahli sastra, dan telah mengunjungi Spanyol, Prancis, Jerman, dan Inggris. Ia menulis buku yang terkenal dan menggemparkan pemerintah kolonial Spanyol di Filipina.

Judul bukunya adalah Noli Metangere, yang artinya jangan menyinggung saya. Isi buku itu mengkritik pedas penguasa greja dan pemerintah kolonial. Ia ditangkap dan diasingkan. Para pemimpin gerakan kemerdekaan, Jose Rizal diasingkan, menganggap bahwa dengan jalan damai sulit untuk memperoleh kemerdekaan. Untuk itu mereka melaksanakan jalan pemberontakan bersenjata.

Pada tahun 1893 Andres Banifacio mendirikan katipunan, yaitu gerakan nasionalis untuk melawan penjajah Spanyol. Pergerakan kebangsaan di Filipina meletus dalam bentuk pemberontakan katipunan terhadap kekuasaan Spanyol sejak tahun 1896 yang dipinpin oleh Jose Rizal, namun pemberontakan itu gagal. Andres Banifacio kemudian memimpin gerakan rahasia, yaitu Liga Filipina. Mengakibatkan Jose Rizal ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tanggal 30 Desember 1896. Kematian Jose Rizal menimbulkan kemarahan rakyat Filipina untuk mengusir Spanyol.

Ini terbukti sejak tahun 1896 pemberontakan rakyat Katipunan melawan penjajah Spanyol, dilanjutkan oleh Euriho Aqwnaldo yang terus berkobar. Pemerintah Spanyol tidak berhasil menindasnya. Pemberontakan semakin besar, akhirnya Spanyol mengadakan perjanjian Filipina, yaitu Perjanjian Biacna Bato (1897), dengan Aqwnaldo, yang berisi: Spanyol berjanji akan mengadakan perbaikan pemerintahan dalam 3 tahun. Tetapi Aqwnaldo dan kawan-kawan harus meninggalakn Filipina (yaitu ke Hongkong) ternyata setelah ia meningalkan Filipina maka perjuangan melawan penjajah berhenti. Bahkan pada saat perebutan daerah koloni di sekitar Laut Karibia antara Amerika dan Spanyol tahun 1898. Spanyol memusatkan perhatin terhadap perang itu.

Melihat keadaan ini Euriho Aqwnaldo kembali ke Filipina. Euriho Aqwnaldo kembali untuk memproklamasikan Filipina sebagai negara yang yang merdeka pada tanggal 12 Juni 1898. Bersama Amerika ia melawan Spanyol. kemudian ia menggempur tentara kolonial Spanyol. Spanyol mundur maka Filipina jatuh. Tinggal manila yang belum jatuh. Pada tanggal 13 Agustus 1898 Manila jatuh. Kemudian sementara itu, Amerika yang memperoleh kemenangan atas Spanyol dalam perang di Laut Karibia. Dalam perjanjian perdamaian Paris tanggal 10 Desember 1898 Spanyol menyerahkan Filipina kepada Amerika, dengan menerima uang sebanyak $20.000.000,00.

Penjajah Spanyol pergi dari Filipina. Filipina lepas dari penjajah Spanyol, tetapi jatuh lagi ke tangan Amerika, yang lebih kuat dan besar. Untuk itu, Amerika tidak mengakui kemerdekaan Filipina yang telah diproklamasikan pada tanggal 12 juni 1898, bahkan sebaiknya, daerah itu dijadikan sebagai daerah jajahan Amerika sejak tahun 1898. Tetapi Euriho Aqwnaldo, dan tetap memegang teguh kemerdekaan Filipina.

Pada tahun 1898 itu juga UUD terbentuk, dan Euriho Aqwnaldo menjadi presiden. Perjuangan melawan Amerika dimulai. Dua tahun lamanya ia melawan Amerika, namun belum berhasil. Pada tahun 1901 Amerika dengan tipu muslihatnya berhasil menangkap Euriho Aqwnaldo. Tetapi gerilyawan-gerilyawan lainya meneruskan perjuangan sampai tahun 1902.

Kesimpulan

Sejauh apa yang telah dibahas tentang Filipina dibawah penjajahan Spanyol ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dimulainya penjelajahan bangsa barat ke bagian dunia lain yang menyebabkan terjadinya penjajahan. Bangsa spanyol menjajah Filipina selama kurang lebih 327 tahun. Suasana liberal pada saat dipimpin oleh gubernur Torre menyebabkan Filipina ingin membebaskan diri dari belenggu penjajah dan hendak mengatur Negaranya sendiri. Banyak faktor yang melatarbelakangi nasionalisme di Filipina. Faktor-faktor yang menjadi penyebab adalah faktor dari luar (eksternal) maupun dari dalam (internal) itu sendiri.

Nasionalisme di Filipina dibagi atas tiga periode atau tiga kurun perjuangan ketika dijajah spanyol. Gerakan pertama berlangsung sampai Tahun 1872, Gerakan yang Berlangsung antara Tahun 1872-1896, dan Gerakan yang Berlangsung antara Tahun 1896-1901. Kemudian dilanjutkan dengan penjajahan Amerika Serikat, dilanjutkan Perang Dunia II dan Pendudukan Jepang, hingga yang terakhir Kemerdekaan Filipina dan Republik Ketiga.


Sumber
Adib, Cesar Majul, Moro. Perjuangan Muslim Filipina Selatan. Jakarta: Al Hilal, 1987.
A.J. Siswasoebrata. Sedjarah Filipina Katolik: Manikam Bentoek Timoer. Djakarta: Tryudam Maaram. 1936.
A.S. Harahap. Sejarah Penjiaran Islam Di Asia Tengara. Medan: Toko Buku Islamiayah, 1951.
Suganda, Didin dan Budi Santosa, Ayi. Sejarah Asia Tenggara (Catatan Tambahan Perkuliahan): Bandung. 1997. Tanpa Penerbit.
Syahbudin Mangandaralam. Mengenal Dari Dekat Filipina Negara Tanah Air Patriot Pujangga Jose Rizal. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1987.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar