Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

4 Februari 2014

Aceh Dibawah Kepimimpinan Sultan Iskandar Tsani

Oleh:

Abdul Ghani

Dewi Patona

Pada tanggal 12 dzulqaidah 916 H (1511 M) Iskandar Tsani atau Ali Mughayat Syah dilantik (dinobatkan) menjadi Sulthan kerajaan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Ali Mghayat Syah, pada tanggal 12 dzulhijjah tahun 936 H (7 agustus 1530 M), Sultan Ali Mughayat Syah mangkat setelah beliau berhasil menyelesaikan  program kerjanya yang utama yaitu berhasil mengusir protugis dari seluruh daratan Aceh. Setelah Aceh Berjaya menyerang Pahang pada tahun 1618, dan Sulthan Iskadar Tsani dari Pahang dibawa ke Aceh. Dan setelah permaisuri dari Pahang menjadi janda Sultan Iskandar muda menikahi puteri Pahang tersebut, yang oleh rakyat dikenal dengan sebutan Putroe Phang yang sangat cantik. Dan waktu itu Slthan Iskandar Tsani masik berumur tujuh tahun dan dijadikan anak angkat oleh Sultan Iskandar Muda. pada usia Sembilan tahun Iskandar Tsani dinikahkan oleh Sulthan Iskandar Muda dengan putrinya Sri Alam , dan pada usia 10 tahun Sultan Tsani diresmikan menjadi putra mahkota, unyuk menggatikan Sulthan Iskandar Muda kelak ( apabila beliau sudah tutup usia).

Aceh Di Bawah Pemimpinan Sulthan Iskandar Thsani

Sultan Iskandar Tsani

Penaklukan yang  dilakukan oleh Sulthan Iskandar Muda terhadap kerajaan Pahang pada tahun 1618 oleh Nuruddin ar-Raniry dalam karyanya “Bustanus Salatin” disebutkan sebagai suatu hikmah Allah untuk menganugerahkan kerajaan aceh kepada Sultan Iskandar Tsani Aluddin Mughayat Syah. Iskandar Tsani adalah putra Sultan Pahang yang dilahirkan pada tahun 1611 . Ia dibawa ke Aceh bersama-sama dengan sebagian rakyat Pahang yang ditawan oleh tentara Aceh dalam rangka memperbanyak rakyat penduduk kerajaan Aceh oleh Sultan Iskandar Muda, pada tahun 1618 M.

Iskandar Thani dibawa ke Aceh ketika ia baru berumur 7 tahun. Dengan ilmu firasat yang dipunyainya, Iskandar Muda melihat tanda-tanda kebahagiaan pada wajah anak Sultan Pahang itu. Maka Iskandar Muda mengangkatnya sebagai anak dengan diberi gelar Raja Bungsu. Di Aceh Sultan Iskandar thani diasuh oleh seorang kerabat istana Aceh yang bernama Nenda Tun Kemala Setia. Ketika berumur 9 tahun Raja Bungsu dinikahkan dengan anak Sultan Iskandar Muda yang bernama Seri Alam Permaisuri. 


Kepada menantunya ini Iskandar Muda memberi gelar baru Sultan Husein Syah. Kemudian dalam suatu upacara yang dihadiri oleh Syamsuddin pasai, Khadi Malikul Adil dan para pembesar lainnya, Sulthan Iskandar Muda menunjukkan Sulthan Husein Syah sebagai calon penggantinya untuk memangku jabatan sultan kerajaan Aceh dengan di beri gelar sultan Mongol. Ketika sultan iskandar muda mangkat dan sultan Mongol resmi menduduki tahta kerajaan Aceh, maka ia bergelar sebagai sultan Iskandar Tsani Allaudin Mughayat Syah.

Sultan Iskandar Muda mangkat dengan tiba-tiba pada tanggal 27 desember 1636 ( 29 rajab 1046 H). Mungkin kematiannya  di sebabkan karena kena racun yang diberikan oleh para wanita makasar kepadanya atas perintah orang-orang portugis. Hal ini dapat diketahui dari laporan gubernur jenderal kompeni Belanda di Batavia., yakni Antonie van Diemen yang  di tunjukkan kapada para penguasa kompeni india  timur di negeri Belanda pada tanggal 9 desember  1637 yang isi laporannya bahwa tidak mustahil ia  di  racun atas desakan orang portugis oleh para wanita yang di kirim raja Makasar ke Aceh sebaagai tanda  penghormatan. Kerajaan Aceh Darussalam ketika dibawah dipimpinan Sultan Iskandar Muda menjadikan Aceh sebuah kerajaan yang terkuat diAsia Tenggara. Namun setelah kremangkatan baginda pada tahun 1636 Aceh sedikit demi sedikit mengalami kemerosotan.

Kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani

Pada zaman masa pemerintahan sultan Iskandar Tsani. Aceh dan semenanjung Tanah Melayu telah melalui suatu zaman yang berbeda dari  yang pernah dialami sejak Sultan Iskandar Muda  berkuasa. Khususnya,  kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Iskandar Tsani tidak lagi mengikuti system pemerintahan pada waktu Sultan Iskandar Muda memerintah. Sebagai seorang pemimpin Sultan Iskandar Tsani  menumpukkan perhatiannya ke arah pembangunan masyarakat dan mengembangkan pendidikan islam.Usahanya untuk menyebarkan ajaran islam tidak saja terbatas di daerah-daerah yang berdekatan dengan Aceh besar malah baginda juga mengirimkan surat dan dua buah kitab yaitu “Surat al-Mustaqin” dan “Babun Nikah”, karangan Syaikh Nuruddin ar-Raniry, seorang ulama besar Aceh abad ke 17 M, kepada sultan kedah, ketika mengetahui bahwa islam telah berkembang dengan pesatnya disana.


Politik Sultan Iskandar Thani yang lebih lunak itu dengan menyebabkan kerajaan Aceh yang berkaitan dengan semenanjung tanah melayu kian terjepit.Misalnya, Pahang, yang setuju berdamai dengan Aceh karena sultannya itu adalah berasal dari keturunan raja-raja Pahang, telah dicerobohi oleh tetangganya.

Peristiwa ini,sebenarnya telah bermula sejak awal 1636. Pada waktu itu atas persetujuan para pembesar Pahang Iskandar Thani telah mengikatkan perdamaian dengan negeri itu dan menerimanya sebagai wilayah naungan Aceh. Kejadian ini membangkitkan kemarahan Johor, lebih-lebih lagi karena ia pernah menguasai negeri Pahang pada masa dahulu. Dengan alasan tersebut,pada tahun 1638, dengan bantuan sekutunya V.O.C.yang berpusat di Batavia, jawa, kerajaan Johor secara mengejutkan menyerang negeri Pahang.Pada saat terjadi kekacauan di Pahang, Iskandar Thani telah mengirimkan satu rombongan dari Aceh untuk memasangkan beberapa buah batu nisan di pekuburan kerabatnya di Pahang.


Meskipun demikian, Sultan Iskandar Thani tidak ikut campur tangan untuk mengamankan suasana di Pahang. Selanjutnya juga tidak terdapat bukti yang menunjukan bahwa Sultan Iskandar Thani pernah membantah terhadap serangan Johor tersebut dengan memberi teguran kepada Sultan Johor secara pribadi. Sebaliknya, Sultan Isakndar Thani hanya menghantarkan satu teguran keras kepada penguasa V.O.C. dan menarik kembali persetujuannya untuk menolong pihak belanda menyerang kota  Malaka. Sikapnya yang kurang tegas terjadi karena tidak mampu lagi untuk melibatkan dirinya dalam satu peperangan yang basar, dan memandang bahwa armadanya telah lemah.

Sikap Sultan Iskandar Thani telah membuat  belanda semakin berani dan melakukan kerja sama dengan Johor untuk menggepur Malaka pada Juni 1640. Walaupun kedudukan mereka sungguh mencemaskan, namun para pejuang Portugis terus memberi tantangan yang hebat terhadap tentara sekutu itu. Dalam keadaan yang demikian, Malaka jatuh juga akhirnya pada bulan Januari 1641, peristiwa yang penting itu berlalu tanpa mendapat tantangan ataupun reaksi dari kerajaan Aceh. 


Pada 15 Februari 1641 lebih kurang sebulan sesudah tamatnya kekuasaan Portugis di Malaka. Sultan Iskandar Thani pun mangkat.Sejak itu, nasib kerajaan Aceh dan rakyatnya langsung berubah, khususnya, pemerintahan Aceh tidak lagi merupakan satu kuasa yang benar-benar disegani, melainkan daerah inti dan daerah pokok.Pemerintahan para Ratu yang berjalan 59 tahun bermula dari istri Sultan Iskandar Thani yang bergelar Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah ( 1641-1675 ), mengakibatkan kekuasaan Aceh kian menurun dalam aspek-aspek politik, ekonomi,dan militer,tetapi masih berkembang dan meningkat dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan dan seni budaya.

Kesimpulan

Sultan Iskandar Thani Alauddin Mughayat Syah Ibni Almarhum Sultan Ahmad Shah II atau nama sebenarnya Raja Husein adalah Sultan Aceh ke-13. Baginda merupakan anak kandung Sultan Pahang, Sultan hmad Shah II. Pada tahun 1617, Kesultanan Aceh dibawah Sultan Iskandar Muda telah menyerang Pahang di mana Sultan Ahmad bersama anggota keluarganya memerintah seperti Raja Husein (Iskandar Thani), Puteri Kamaliah (Putrie Phang) yang kemudian menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda, dan Bendaharanya Tun Muhammad, lebih akrab dengan nama samarannya Tun Sri Lanang. Dengan ini, berakhirlah era pemerintahan Kesultanan Pahang yang berasal daripada zuriat Sultan Malaka secara langsung. Dibawa ke Aceh, beliau dikawinkan dengan puteri Sultan Iskandar Muda, yang kemudian bernama Sri Ratu Safiatuddin Taj ul-Alam. Selepas Sultan Iskandar Muda mangkat pada 1637, Raja Husein menggantikan Sultan Iskandar Muda sebagai Sultan Kerajaan Islam Ahceh Darussalam.

Sumber:

Kurdi, Muliadi. (2009). Aceh Di Mata Sejarawan. Banda Aceh: LKAS.

Said, Mohammad. (1981). Aceh Sepanjang Abad Jilid. 1. Medan: Waspada Medan.


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Sejarah Universitas Syiah Kuala Angkatan 2012 Banda Aceh – Darussalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar