Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

11 Mei 2013

PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU DAN BUDHA DI SUMATERA UTARA


Pengaruh Kebudayaan Hindu dan Budha di Sumatera Utara

Seni Arsitektur

Terdapat  di bangunan-bangunan mesjid kuno Sumatera Utara:

a.       Mesjid Al Osmani

Mesjid ini dibangun pada tahun 1854, oleh Raja Deli Ketujuh  yakni Sultan Osman Perkasa alam dengan menggunakn kayu pilihan. Kemudian pada tahun 1870 hingga 1872 yang terbuat dari bahan kayu itu dibangun menjadi permanen oleh anak Sultan Osman yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam yang juga menjadi Raja Deli kedelapan. Pintu mesjid beronamen China, ukiran bangunan bernuansa India. Rancangannya unik, bergaya India dengan kubah tembaga bersegi delapan. Kubah yang terbuat dari kuningan tersebut beratnya mencapai 2,5 ton. Mesjid Al Osmani ini berumur lebih dari 150 tahun.

 Mesjid Lama Gang Bengkok

Mesjid Lama Gang Bengkok kampung “kesawan” ini bergaya rumah China memiliki keistimewaan karena pembauran antara etnis Tionghoa (China) dengan etnis setempat. Salah satu bangunan mirip kelenteng, atap nya melengkung dan terdapat empat tiang setebal setengah meter yang menopang seluruh bangunan. Di bagian atas tiang terdapat patung buah jeruk dan anggur, salah satu ciri khas arsitektur China. Serta bentuk bangunan mesjid ini ada juga berbentuk stupa, seperti candi-candi.

Masyarakat dan Budaya

Dengan populasi sekitar 12 juta jiwa, penduduk Sumatra Utara dibagi menjadi lima kelompok etnis utama dan bahasa yaitu Orang Melayu pesisir yang hidup di sepanjang Selat Malaka, orang Batak, Angkola atau Mandailing dari Tapanuli selatan, dan Nias kepulauan lepas pantai barat. Kelompok-kelompok ini masing-masing memiliki dialek bahasa, agama, seni, adat dan budaya khasnya tersendiri. Beberapa kelompok etnis lainnya juga hidup di Medan dan kota-kota lain dari Sumatera Utara, yang terbesar  yaitu orang Cina dan India.

Di Medan ada banyak suku etnis dari seluruh Indonesia yang datang ke kota ini untuk berbisnis. Kota ini juga rumah bagi warga keturunan Cina dan India yang cukup mendominasi. Daerah yang sangat indah di Sumatera Utara adalah sekitar Danau Toba, di sini hidup masyarakat Batak yang dibagi menjadi enam budaya, masing-masing memiliki bahasa, upacara, dan tradisi berbeda. Meskipun terisolasi secara geografis tetapi orang Batak memiliki riwayat hubungan dengan dunia luar.  Hubungan perdagangan antara dataran tinggi dan daerah lain pun berjalan baik yaitu pertukaran barang seperti garam, kain, dan besi, lalu yang diimpor ke wilayah ini seperti  emas, beras dan cassia (jenis kayu manis)


Orang-orang Eropa yang pertama berdagang ke wilayah Batak adalah misionaris, mereka menjelajahi daerah pedalaman terpencil pada akhir abad ke-18. Misionaris tersebut mengabarkan bahwa masyarakat lokal wilayah ini kanibalisme.  Sebelumnya awal abad ke-9, sebuah teks Arab menyebutkan bahwa penduduk Sumatra itu memakan daging manusia. Namun, saat ini para antropologi percaya bahwa hal ini adalah bentuk hukuman yang langka dan mungkin nampak biasa saja bagi orang Batak. Banyak orang Batak yang menyimpan tulang nenek moyang mereka yang disalah artikan oleh orang luar sebagai kanibalisme mengerikan. Kepercayaan tradisional Batak berpusat pada pemahaman spiritual bahwa alam semesta dibagi menjadi tiga, yaitu: dunia atas di mana Tuhan berada, dunia tengah dimiliki manusia, dan dunia yang lebih rendah merupakan rumah bagi makhluk halus dan iblis.


Hubungan Masyarakat India dengan Sumatera Utara Sejak Abad ke-3 M

Kedatangan berbagai etnis India ke pantai timur Sumatera dan pantai Barat Sumatera Utara sudah jauh sekali sebelum Masehi, yaitu membawa agama Hindu dan terakhir kemudian juga agama Budha terutama masa arus angin dari India ke Barus pada bulan Nopember dan Desember. Prof. Coomalaswamy* menulis bahwa Sumatera yang mula-mula sekali dari sejak sebelum Masehi menerima pendatang Hindu-India. Mereka membawa aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta. Abad ke-V Masehi gelombang dari India Selatan membawa agama Budha ke Sumatera dan memperkenalkan aksara Nagari yang menjadi cikal bakal aksara Melayu Kuno, Batak dan lain-lain. Sejak abad ke-3 M, transportasi perdagangan di kepulauan Nusantara berada di tangan orang Cola. Pusat di Tamilakam, diambil alih oleh orang Pallava yang kemudian pula ditaklukkan oleh Cola kembali diabad ke-9 M. Orang Pallava dulu beragama Budha, tetapi menjadi Hindu kembali. Mereka berasal dari India utara dan simbol mereka “makara” dan “lembu Shiwa” dan menganggap mereka bukan dari Matahari atau Bulan tetapi dari “Aswattaman” (pahlawan dari cerita Mahabharata). Merekalah yang merebut ibukota Cola tahun 280 M dan lambang raja-raja Cola adalah Harimau yang dicap pada benderanya. Juga pada tahun 717 M pendeta Tamil Wajabodhi membawa aliran Tantrisme Mahayana Budha ke Malayu seperti terdapat di candi di Padang Lawas dan patung Adytiawarman di Pagarruyung. Kesemuanya bersamaan dengan membawa juga pengaruh atas perdagangan dan adat-budaya kepada masyarakat di pantai Barat Sumatera Utara dan mereka membawa aksara Pallawa. Peranan etnis India dari Malabar (Malabari) dapat ditelusuri dari hikayat tentang masuknya Islam ke Sumatera. Islam di Malabar ialah bermazhab Syafei.

Menurut Tome Pires (1515 M) Raja Pasai dan sebagian penduduknya berasal dari India Islam dari Bengal. Banyak Pedagang Gujarat, Kling dan Bengal di sini. Di Lobu Tua (Barus) pantai barat Propinsi Sumatera Utara telah ditemukan Batu Bersurat, tetapi atas perintah pembesar Belanda kepada Raja Barus Sutan Mara Pangkat sebahagian telah dihancurkan. Adapun sisa-sisa dari pecahan batu prasasti itu ada disimpan di seksi arkeologi Museum Pusat Jakarta, dan inskripsinya sudah diterjemahkan oleh PROF. DR. K. A. Nilakanta Sastri dari Univ. Madras ditahun 1931, yang menurut beliau prasasti itu dibuat ditahun Saka 1010 (=1088 M.). Itu masa pemerintahan Raja Cola Kerajaan yang diperintah oleh Kulotunggadewa I yang menguasai wilayah Tamil di India Selatan. Kalau kita baca “Hikayat Melayu” karangan Bendahara Melaka Tun Sri Lanang (abad ke-16 M), itu memang cocok dengan apa yang tertulis di prasasti Tanjore (1030 Saka), ketika Raja Rajendra Cola Dewa-I pada tahun 1025 M menyerang Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara dan (Pannai, Lamuri Aceh) Malaya. Dari Prasasti Lobu Tua itu kita ketahui bagaimana eratnya hubungan perdagangan dan budaya “benua” India dengan Sumatera. Prasasti Lobu Tua itu berisi tentang aktivitas perdagangan kumpulan konglomerat Tamil yang dikenal dengan nama “Mupakat Dewan 1500”. Anggotanya terdiri dari berbagai sekte Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain. Keberbagai negara mereka pergi membawa barang dengan kapal mereka sendiri dan disitu mendirikan Loji (gudang yang berbenteng yang dijaga oleh perajurit mereka). Mereka tidak tunduk kepada sesuatu kerajaanpun tetapi disambut hangat oleh setiap negeri/yang dikunjungi mereka.

Tentulah bersama para pedagang itu turut serta pula seniman pengukir/candi dan pendeta Hindu dan tentu banyak terjadi perkawinan dengan wanita-wanita Batak. Menurut hikayat di Sianjur Mula-Mula diciptakan aksara Batak yang nampak sekali berasal pengaruh aksara Sansekerta, oleh DATU TALA DIBABANA marga Borbor. Mari kita lihat beberapa pengaruh Hindu itu pada orang Batak antara lain:

1.      Nama-nama hari “ Aditya = Ariria (Toba) = Aditia (Karo)

2.      Soma = Suma (Toba) = Suma (Karo); Anggara = anggara (Toba) = anggara (Karo); Budha = Muda (Toba) = Budalia (Karo); Brhaspati = Boraspati (Toba) = Beraspati (Karo); Syukra = Singkora (Toba) = Cukera (Karo); Syabaisycara = Samisara (Toba) = Sanusara  (Karo);  Yoga  =  Ayuga (Toba) =  Iyoga (Karo);  Kala  =  hala ‘ Wisnu-Bisnu ; Brahma = Borma.

3.      Brahma dalam kitab Upanisad = Mulajadi Nabolon; Gunung Cicira yang dingin = Pusuk Buhit; Dewa Manu dalam Purana = Batara Asi-asi; Saraswati cakti dari Brahma = Boru Deak Parujar. Pani didalam kitab Pustaha Panai Bolon = dalam buku orang Weda tentang pencegah langit mendung; Kuda Debata = Kuda Dewata; Sisingamangaraja = Dewa Manusia didalam buku Hindu Manu; Sri = Sori.

4.      Pada etnis Karo terdapat merga-merga : Brahmana, Pandia, Meliala (=Malayali), Depari, Pelawi (=Phlawa), Colia (=Cola), Tekang (=tekanam) dan lain-lain semua masuk grup SEMBIRING (Orang Hitam) dan dalam upacara adat misalnya “Pekualuh” (menghanyutkan abu jenazah di sungai) ternyata masih ada terdapat sisa-sisa kepercayaan orang Tamil itu pada mereka. Mereka juga boleh kawin sesama merga.

Memasuki abad ke-16 dari catatan Portugis misalnya orang “Benggali” (dari Prop.Bengal), “Kling” (dari kerajaan Kalingga=Tamil) dan Gujarat ramai sekali berdagang ke Sumatera dan kawin mengawin dengan penduduk Sumatera. Didalam prasasti TANJORE ada ditulis negeri-negeri yang ditaklukkan Indra Coladewa-I tercatat Kerajaan PANAI (Pannai) di Padang Lawas. Negeri itu dicatat sebagai “water in its bathing gats” (Bah. Tamil “pannai” artinya lapangan yang diairi sungai-sungai). Didalam exkavasi yang dilakukan DR. Schnitger ditahun 1930-han, terdapat disana banyak biara sekte Budha Tantrik Bhairawa (abad ke-11 s/d 14 M) dan bahasa dari inskripsi disana bahasa Melayu Tua bercampur Sangsekerta, sebagai contoh inskripsi Gunung Tua (1024 M) ada kalimat : “Juru pandai Surya barbwat Bhatara Lokanantha”. Pedagang asal turunan Tamil-Batak itu banyak mendatangkan kuda-kuda dari pantai Barat untuk diexport ke pantai timur Sumatera. Merga “Kudadiri” mungkin sekali berasal dari nenek moyang mereka pedagang kuda. Kuda Batak sangat digemari karena kokoh badannya. Baik di Kota Cina ditemukan patung Budha (Sahasamala) dan manik asal India Selatan abad ke-13 dan 15. Ini menunjukkan maraknya perdagangan India Selatan dengan Sumatera terus menerus.

Daftar Pustaka

J. Tideman, “Hindoe-invloed in Noordelijk Batakland”. Amsterdam 1936.

DR. J. Przyluski “Indian Colonisation in Sumatra before 7th Century”

W.H.M. Schadee, “Geschiedenis van Sumatr’s Oostkust”, I dan II, Medan 1918.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar