Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

15 Desember 2013

Membaca Aceh Dalam Sastra



Dalam sejarahnya, Aceh tak pernah sepi dari perbincangan. Mulai dari kekayaan alamnya, masa lalu yang gemilang dengan sejumlah kerajaan besar, perlawanan rakyatnya terhadap kolonialisme, masa suram di tengah berbagai konflik, hingga bencana tsunami. Seluruhnya terekam dalam perkembangan karya sastra di Aceh, mulai sejak Hamzah Fanzuri, Nuruddin Ar-Raniry, Tengku Chik Pante Kulu, hingga generasi terkini, karya sastra Aceh merepresentasikan perkembangan sejarah yang menarik, baik sejarah ihwal Aceh dan kekayaan budayanya ataupun sejarah dalam kesusastraan itu sendiri.


Satu hal yang senantiasa tak lepas dari karya-karya sastra Aceh adalah perlawanan. Karya-karya perlawanan tak hanya muncul semasa kolonialisme Belanda, ketika “Hikayat Perang Sabil” karya Tengku Chik Pante Kulu menggerakkan seluruh rakyat untuk melakukan perlawanan. Bahkan hingga hari ini, semangat perlawanan terus terasa kuat dalam karya para sastrawan Aceh, termasuk perlawanan terhadap Jakarta semasa Orde Baru, menjadikan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).

Tak ada satu pun antologi puisi karya para penyair Aceh, yang tidak menyuarakan perlawanan dan tuntutan terhadap keadilan. Di lain sisi, Aceh pun menghadirkan tangis ketika tsunami melanda di akhir tahun 2004 lalu. Sekali lagi, Aceh diliputi kemurungan yang amat terasa dalam sajak-sajak penyairnya yang terkumpul dalam antologi “Ziarah Ombak”.

Aceh dalam sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Tak hanya bersebab pada sejarah estetika pengucapannya, melainkan juga sejarah yang merepresentasikan fenomena kekuasaan yang berlangsung. Terakhir, sejarah Aceh hadir dalam lanskap bencana tsunami, perdamaian, dan perubahan besar, yang terjadi di tengah arus kehidupan sosial masyarakatnya.

Memandang dan membaca kembali perkembangan sastra Aceh sebagai bagian dalam perkembangan sastra Indonesia inilah tampaknya yang hendak diusung oleh Aceh International Literary Festival di Banda Aceh, 5-7 Agustus 2009. Selain menghadirkan sejumlah sastrawan dari Jakarta, Medan, Yogyakarta, Solo, Bali, Bandung, Cirebon, dan Kudus, festival ini juga diikuti oleh para sastrawan dan peserta dari Italia, Austria, Australia, Cina, dan Malaysia. Selain pembacaan karya para sastrawan, festival ini juga menggelar seminar yang menghadirkan pembicara kritikus sastra Katrin Bandel dan Maman Mahayana serta penyair Aceh, D. Kemalawati.


Ketiga pembicara seminar meletakkan Aceh sebagai fokus perbincangan dengan berbagai konteks persinggungannya dalam isu kesusastraan Indonesia, termasuk ihwal politik sastra. Meski semangat perlawanan dalam karya-karya sastra Aceh tampaknya menjadi sorotan menarik, seperti mengemuka dalam pandangan Katrin Bandel. Merujuk pada sajak-sajak Fikar W. Eda, Katrin melihat bahwa ada semacam semangat perlawanan yang sama antara puisi-puisi Fikar dan Wiji Thukul.

“Hanya saja, jika Wiji Thukul menggunakan sajaknya untuk menyuarakan perlawanan suatu kelas yang ditindas oleh sebuah rezim kekuasaan, maka semangat perlawanan dalam sajak Fikar W. Eda lebih pada perlawanan suatu etnis yang diperlakukan tidak adil, bukan pada kelas sebagaimana Wiji Thukul,” ujar Katrin.

Sementara itu, Maman Mahayana lebih menyarankan pada pembacaan ihwal sejarah perkembangan sastra Aceh di hadapan berbagai situasi. Ada tiga konteks perkembangan yang coba diamati Maman, dari mulai masa kolonialisme, Orde Baru, dan DOM. Dalam amatannya, Aceh dan tsunami telah menjadi ruang bagi babak penyadaran bahwa segala konflik berdarah mesti dihentikan.


“Tentara, polisi, GAM, guru, penyair, PNS, sampai pedagang, sesungguhnya hanyalah label profesi. Ia melekat pada manusia Aceh, manusia Indonesia, yang ingin menjalan hidup sebagai manusia bermartabat. Lalu mengapa pula label itu dimaknai sebagai sumber perbedaan yang berujung pada pertumpahan darah? Aceh kini bukan lagi milik aku atau engkau, kami atau mereka. Aceh adalah kita dan kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Aceh,” ungkap Maman.

Merujuk pada antologi “Ziarah Ombak” yang memuat 130 puisi karya 48 penyair Aceh, Maman memandang, bagi para penyair Aceh, tsunami merupakan kedatangan yang penuh misteri karena misteri itu menutup seluruh jawaban, maka bagi posisi penyair di situ hadir untuk menyuarakan semacam persaksian, sekaligus menariknya ke dalam ruang-ruang refleksi.

Sejumlah besar puisi dalam antologi tersebut, menyimpan begitu banyak peristiwa yang bersumber pada satu kata: tsunami. Satu hal yang tersirat dari sejumlah persaksian para penyair dalam sajak-sajak mereka adalah betapa kesadaran akibat peristiwa itu hadir dengan berbagai latar belakang. Artinya, kesadaran itu tidak muncul begitu saja. Ada berbagai konteks sejarah yang diusung oleh kesadaran tersebut.

“Antologi ini bukan hanya mewartakan banyak hal tentang sebuah tragedi. Tapi juga membawa begitu banyak tumpukan kisah yang tak terucapkan. Ia menyimpan trauma yang juga berasal dari sejarah Aceh itu sendiri. Sejarah yang agung dan berdarah-darah,” ujar Maman, seraya meyakini bahwa sastra Indonesia tinggal menunggu lahirnya karya-karya sastrawan Aceh, yang bisa memberi penanda penting dalam perkembangan sastra Indonesia.

Tak berbeda dengan Maman Mahayana, D. Kemalawati banyak mengurai sejarah perkembangan kesusastraan Aceh, termasuk sejumlah karya yang mengangkat semangat perlawanan dan rasa sakit semasa DOM. Namun pada bagian lain, ia memaparkan kondisi perkembangan terkini dalam dinamika sastra di Aceh. Satu hal yang mungkin terasa mengejutkan adalah kenyataan bahwa baru kali inilah, pegiat sastra di Aceh bisa menerbitkan kumpulan puisi para penyair perempuan, “Lampion”. Tampaknya, inilah yang telah lama dimimpikan.

Sayangnya, D. Kemalawati tidak mengajak forum untuk menelisik sebab-musabab mengapa baru kali ini perempuan bisa tampil dalam sastra Aceh. Akan tetapi lepas dari soal itu, masa perdamaian memang telah membawa perkembangan sastra Aceh dalam kondisi yang menggembirakan, dari mulai munculnya para pegiat sastra yang mendirikan penerbit kecil-kecilan, hingga penghargaan terhadap para sastrawan. Namun demikian, seluruh perkembangan itu belum dibarengi oleh lahir dan tumbuhnya para kritikus sastra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar