Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

5 Desember 2012

Pengaruh Kebudayaan India Di Asia Tenggara


Oleh: Chaerol Riezal

Pendahuluan

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kebudayaan India pernah masuk ke Asia Tenggara, yaitu terlihat adanya agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Asia Tennggara, agama Hindu dan Budha. Dan kedua agama ini merupakan pintu gerbang untuk mengkaji dimulainya zaman sejarah bagi negara-negara di Asia Tenggara. Kebudayaan Hindu dan Budha masuk ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan. Sehingga beberapa dari kebudayaan tersebut diakulturasikan oleh masyarakat Asia Tenggara sehingga menimbulkan sebuah kebudayaan dalam bentuk yang baru.


Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan kuno di dunia jika dilihat adanya penduduk yang hidup di wilayah ini. Hal ini dilihat dari banyaknya penemuan fosil-fosil manusia purba di beberapa wilayah Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Kawasan ini, pada masa protosejarah sebenarnya merupakan wilayah yang dinamis dalam perkembangan kebudayaannya. Wilayah tersebut merupakan terminal migrasi bangsa yang datang dari arah Asia kontinental. Dalam upaya menempati wilayah yang baru saja dihuni, manusia migran dari daratan Asia mengembangkan kebudayaannya yang akan menjadi dasar perkembangan kebudayaan Asia Tenggara hingga kini.

Setelah beberapa ratus abad bermukim di daratan Asia Tenggara, orang-orang yang kemudian mengembangkan kebudayaan Austronesia tersebut, sebagian ada yang melanjutkan migrasinya ke wilayah kepulauan, menyebar ke arah kepulauan Nusantara dan juga Filipina, bahkan terus berlanjut ke arah pulau-pulau di Samudera Pasifik. Menurut Robert von Heine Geldern, migrasi ke arah wilayah kepulauan terjadi dalam dua tahap, yaitu:  Tahap pertama berlangsung dalam kurun waktu antara 2500-1500 SM dan Tahap kedua berlangsung dalam kurun waktu yang lebih muda antara  1500-500 SM (Von Heine Geldern  1932 and 1936; Soejono 1984: 206-208).

Kesimpulan tersebut didasarkan kepada berbagai penemuan arkeologi, antara lain monument-monumen dari tradisi megalitik yang tersebar di berbagai wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Gelombang pertama menghasilkan kebudayaan megalitik tua dengan cirinya selalu menggunakan batu-batu alami besar, sedikit pengerjaan pada batu, dan minimnya ornament. Dalam gelombang kedua migrasi dihasilkan kebudayaan megalitik muda yang mempunyai cirri, batu-batu tidak selalu berukuran besar, telah banyak pengerjaan pada batu, dan juga telah banyak digunakan ornamen dengan beragam bentuknya. Megalitik muda itu telah menempatkan nenek moyang bangsa-bangsa Asia Tenggara dalam era proto-sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan megalitik muda, kemahiran mengolah bijih logam telah maju, sehingga masa itu juga telah dihasilkan benda-benda dari perunggu dan besi.

Sebagai makhluk yang belum berperadaban, pada mulanya mereka hidup dengan cara berburu binanatng-binatang liar dengan cara nomaden. Namun seiring berkembangnya anak keturunannya, mereka mulai memikirkan suatu pola hidup yang baru. Dan mulailah mereka menetap yang kemudian berkembang dari sistem perburuan menjadi pertanian, meski pada mulanya mereka tetap mempertahankan perburuan. Namun pada perkembangannya, mereka mulai menemukan sistem bercocok tanam yang baik dan mengumpulkan bahan makanan.

Ketika migrasi telah mulai jarang dilakukan, dan orang-orang Austronesia telah menetap dibeberapa wilayah Asia Tenggara, terbukalah kesempatan untuk lebih mengembangkan kebudayaan secara lebih baik lagi. Berdasarkan temuan artefaknya, dapat ditafsirkan bahwa antara abad ke-5 SM hingga abad ke-2 M, terdapat bentuk kebudayaan yang didasarkan kepada kepandaian seni tuang perunggu, dinamakan Kebudayaan Dong-son. Penamaan itu diberikan atas dasar kekayaan situs Dong-son dalam beragam artefaknya, semua artefak perunggu yang ditemukan dalam jumlah besar dengan bermacam bentuknya. Dong-son  sebenarnya nama situs yang berada di daerah Thanh-hoa, di pantai wilayah Annam (Vietnam bagian utara). Hasil-hasil artefak perunggu yang bercirikan ornament Dong-son ditemukan tersebar meluas di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara, dari Myanmar hingga kepulauan Kei di Indonesia timur.

Bermacam artefak perunggu yang mempunyai ciri Kebudayaan Dong-son, contohnya nekara dalam berbagai ukuran, moko (tifa perunggu), candrasa (kampak upacara), pedang pendek, pisau pemotong, bejana, boneka, dan kampak sepatu. Ciri utama dari artefak perunggu Dong-son adalah kaya dengan ornamen, bahkan pada beberapa artefak hampir seluruh bagiannya penuh ditutupi ornamen. Hal itu menunjukkan bahwa para pembuatnya, orang-orang Dong-son (senimannya) memiliki selera estetika yang tinggi (Wagner 1995: 25-26). Kemahiran seni tuang perunggu dan penambahan bentuk ornamen tersebut kemudian ditularkan kepada seluruh seniman sezaman di wilayah Asia Tenggara, oleh karenanya artefak perunggu Dong-son dapat dianggap sebagai salah satu peradaban pengikat bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Seorang ahli sejarah Kebudayaan bernama J.L.A.Brandes pernah melakukan kajian yang mendalam tentang perkembangan kebudayaan Asia Tenggara dalam masa proto-sejarah. Brandes menyatakan bahwa penduduk Asia Tenggara daratan ataupun kepulauan telah memiliki 10 kepandaian yang meluas di awal tarikh Masehi sebelum datangnya pengaruh asing, yaitu:

1.      Telah dapat membuat figur boneka.

2.      Mengembangkan seni hias ornamen.

3.      Mengenal pengecoran logam.

4.      Melaksanakan perdagangan barter.

5.      Mengenal instrumen musik.

6.      Memahami astronomi.

7.      Menguasai teknik navigasi dan pelayaran.

8.      Menggunakan tradisi lisan dalam menyampaikan  pengetahuan.

9.      Menguasai teknik irigasi.

10.  Telah mengenal tata masyarakat yang teratur.

Pencapaian peradaban tersebut dapat diperluas lagi setelah kajian-kajian terbaru tentang kebudayaan kuno Asia Tenggara yang telah dilakukan oleh G.Coedes. Beberapa pencapaian manusia Austronesia penghuni Asia Tenggara sebelum masuknya kebudayaan luar.

Di bidang kebudayaan materi telah mampu:

1.      Kemahiran mengolah sawah, bahkan dalam bentuk terassering dengan teknik irigasi yang cukup maju.

2.      Mengembangkan peternakan kerbau dan sapi.

3.      Telah menggunakan peralatan logam.

4.      Menguasai navigasi secara baik.
 
Pencapaian di bidang sosial:

1.      Menghargai peranan wanita dan memperhitungkan keturunan berdasarkan garis ibu.

2.      Mengembangkan organisasi sistem pertanian dengan pengaturan irigasinya.


Pencapaian di bidang religi:

1.      Memuliakan tempat-tempat tinggi sebagai lokasi yang suci dan keramat.

2.      Pemujaan kepada arwah nenek moyang/leluhur (ancestor worship).

3.      Mengenal penguburan kedua (secondary burial) dalam gentong, tempayan, atau sarkopagus.

Dalam hal religi penduduk kepulauan Indonesia masa itu mengenal upacara pemujaan kepada arwah nenek moyang (ancestor worship). Kekuatan supernatural yang dipuja umumnya adalah arwah pemimpin kelompok atau ketua suku yang telah meninggal. Sebagai sarana pemujaannya didirikan berbagai monumen megalitik, antara lain punden berundak, menhir, dolmen, kubur batu, batu temu gelang, dan lain-lain.


Kebudayaan Austro Asia

Asia Tenggara sebuah istilah yang umum dipakai selama Perang Dunia Kedua untuk menggambarkan wilayah daratan Asia bagian timur yang terdiri dari Jazirah Indo-China dan banyak kepulauan yang meliputi Indonesia dan Filipina. Dalam menggunalam istilah itu, penulis-penulis Amerika membuat standar “Southeast” dan telah di ikuti oleh Viktor Parcel dan E.H.G Dobby. Tetapi tampaknya tidak ada alasan yang dapat diterima untuk membuat bentuk baru dalam menyukai apakah “South - East atau Southeast” mempunyai sangsi pemakaian yang lama.

Seperti halnya semua istilah-istilah yang dipakai untuk wilayah yang luas demi untuk kesenangan, terbuka bagi sejumlah keberatan-keberatan. Permasalahan tentang hal ini tampaknya tidak perlu di perpanjangkan, karena kita menggunakan istilah itu semata-mata agar mudah untuk di ingat atau yang lain.

Suatu wilayah yang sejak waktu awal sekali terkena pengaruh China dan India dan pada bagian lain terjadi perjuangan berabad-abad antara Assam dan Cochin – China untuk memperebutkan supremasi. Sejarah kebudayaannya sangat menarik, karena itu terutama dalam kurun waktu Zaman Pertengahan di Eropa, ketika seni dan arsitekturnya berkembang tinggi, karena mendapat rangsangan pengaruh India.

Akhir Zaman Pertengahan ketika Portugis muncul di atas panggung, Asia Tenggara telah terbagi ke dalam dua wilayah kebudayaan yang besar, antara lain: yang satu dinamakan oleh sarjana-sarjana Perancis I’Inde Exterieure, dimana pengaruh India dominan, dan yang satu lagi terdiri dari Tongking, Annam dan Cochin-China, dimana pengaruh China dominan,dengan jatuhnya kerajaan Hindu Champa dalam abad XV.

Pengaruh  India yang tidak bertalian dengan politik, berbeda dengan pengaruh China, dalam proses penyerapannya oleh masyarakat asli di Asia Tenggara, ditransformasikan tidak berbeda misalnya pengaruh Yunani Kuno terhadap Eropa Barat. Karena rakyat yang merasakan rangsangan kebudayaan India bukan orang-orang buas atau liar, melainkan masyarakat dengan peradaban yang relatif tinggi.

Secara politis dan kebudayaan Asia Tenggara telah diliputi naungan bayangan India dan China, yang merupakan kekuatan besar dengan peradaban yang kokoh jauh sebelum mulai babakan sejarahnya sendiri. Dan hanya dengan usaha memperkarya kebudayaannya sendiri maka peradabannya mulai berkembang dan mencapai keagungan. Alasan-alasannya juga jelas karena ketika sarjana-sarjana Eropa menyadarinya perhatian mereka dipusatkan pada raja-raja, istana dan candi-candi yang sangat kuat memperlihatkan pengaruh dari luar itu.

Bukti kehidupan rakyat biasa sangat sukar dijumpai, dan sebegitu jauh terlalu sedikit yang telah diketemukan. Namun apa yang ada menunjukan pada kenyataan yang tak dapat di pungkiri bahwa dalam apa yang disebut negara-negara yang telah dihindukan sebagian besar massa rakyat dalam waktu panjang tidak tersentuh oleh kebudayaan India, atau menyerapnya, mengubahnya dengan menyalurkannya dengan kebudayaan asli. Dengan demikian struktur masyarakat secara luas tak terpengaruhi oleh pengaruh India itu. Sistem kasta yang mendasar dalam Hinduisme, ternyata kecil pengaruhnya, dan wanita umumnya mempertahankan kedudukannya yang tinggi seperti sebelum datangnya pengaruh India pada awal mulanya, suatu kedudukan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pada masa setelah dipengaruhi India, demikian sepanjang catatan sejarah.

Bukti-bukti yang extrim type manusia kuno telah ditemukan di Jawa. Pithecanthropus erecthus dan bahkan Mojokertensis yang lebih tua,  termasuk zaman Pleistocene tua, dan dulu dikira merupakan suku bangsa yang terpisah dari sejarah manusia. Za man Pleistocene akhir melahirkan 11 tengkorak yang ditemukan di Ngandong dilembah Bengawan Solo.

Bukti-bukti kebudayaan Mesolithicum telah tersebar luas. Disebut Bacson-Hoabinh dari daerah-daerah yang benyak sekali ditemukan artefak-artefaknya diprovinsi Bacson Dan Hoabinh di Tongking. Gambaran yang membedakan alat-alat batunya adalah bahwa alat batu di kerjakan sebelah saja. Bukti-bukti suatu type Melanesoid ditemukan di Indochina. Artefak rakyat ini ditemukan di Annam Utara, Luang Prabang, Siam, Malaya dan di pantai timur Sumatera.

Meraka melakukan upacara cannibalisme. Laki-laki menjadi pemburu, penangkap ikan dan pengumpul makanan, wanitanya dalam beberapa hal menggunakan cangkul sederhana untuk mengolah tanah. Sampai dibuat dari sebatang kayu yang dilubangi.

Dua bentuk kapak yang lain dari kurun waktu Neolithicum, kapak berpundak terdapat di banyak tempat dari sungai Gangga sampai ke Jepang, tetapi tidak disebelah selatan garis yang ditari  lurus dari bagian tengah Semenanjung Melayu. Dan yang lebih luas tersebar adalah kapak persegi empat yang ditemukan di lembah-lembah sungai Hoang-ho, Yang-tse, Mekong, Salween, Irrawaddy, Brahmaputra dan seluruh Nusantara. Kebudayaan ini bukan hanya sangat tersebar luas, tetapi juga kebudayaan zaman batu yang sangat penting, karena kemajuan besar yang di capai dalam seni oleh para imigran yang membawanya.

Para imigran yang memperkenalkan barang-barang logam adalah induk bangsa yang sama typenya dengan Proto Melayu. Keduanya biasanya disimpulkan sebagai orang-orang Inonesia. Pendatang-pendatang berikut datang dari rumah asal yang sama dan rute perjalanan yang sama seperti pendahulunya. Di Asia Tenggara mereka bercampur dengan bebas dengan Proto Melayu, tetapi sebagiannya mendesak ke pedalaman. Jadi orang Gayo dan Alas di Sumatera dan Toraja di Sulawesi digolongkan sebagai Proto Melayu.

Kebudayaannya tidak dapat secara tajam diberi karakter sebagai kebudayaan perunggu. Karya perunggu mereka merupakan hasil yang tinggi nilainya. Salah satu gambaran khusus adalah berbagai type genderang yang dipakai untuk maksud upacara yang tersebar luas di Asia Tenggara.

Ciri karekteristik yang lain adalah hubungan megalith-megalith dengan agama mereka. Bangunan-bangunan ini mencakup patung nenek moyang, batu gilingan, palungan tempat menyimpan tengkorak, menhir-menhir yang merupakan lambang phallus, dolmen ditempat penguburan mayat, batu-batu dengan ruangan datar dan panjang dan sisa kuburan. Dengan demikian, Asia Tenggara telah memiliki peradaban tersendiri jauh sebelum terkena pengaruh India.


Hubungan Mula-Mula Asia Tenggara Dengan India

Hubungan India dan Asia Tenggara mungkin jauh kebelakang sejak zaman prasejarah. Pedagang-pedagang dari kedua belah pihak tentu telah saling mengunjungi pelabuhan-pelabuhan mereka masing-masing. Tampaknya mungki koloni-koloni kecil pedagang-pedagang India yang telah ada di pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara jauh sebelum masuknya pengaruh kebudayaan yang manapun.

Suatu pelabuhan besar mulai muncul dalam suasana Asia Tenggara. Karena kerajaan-kerajaan terlihat muncul di Semenanjung dan Nusantara, memperaktekkan agama dari India, kesenian, adat dan Sanskerta sebagai bahasa sucinya. Kapan dan bagaimana untuk pertama kalinya muncul adalah suatu masalah dugaan yang luas. Bukti arkeologis yang paling tua hampir dalam segala hal diketahui dari masa yang terakhir yang bukan kepalang, dan sumber-sumber petunjuk yang telah dikumpulkan dari China, India dan Eropa tidak mencukupi atau dianggap sebagai keterangan yang pasti.

Negara-negara baru berkembang sekitar tempat-tempat yang sering didatangi pedagang-pedagang India disebabkan datangnya para pendata dan pujangga yang mampu menanamkan kebudayaan India, walaupun tidak dapat disingkirkan bahwa orang-orang Indonesia sendiri berkenalan dengan India memainkan peranan sendiri dalam proses itu.

Bila tabir telah terbuka sebagian dan memungkinkan untuk membentuk beberapa jejak pada masyarakat baru itu, apa yang terlihat adalah suatu kebudayaan yang diorganisir yang dilaksanakan atas empat unsur, yaitu:

1.      Konsepsi kesetiaan yang dijiwai pemujaan-pemujaan Hindu dan Budha.

2.      Ungkapan tertulis dengan bahasa Sanskerta.

3.      Mitologi yang diambil dari syair kepahlawanan, Purana, dan teks Sanskerta yang lain yang berisi inti tradisi kerajaan dan keturunan secara tradisional keluarga-keluarga raja di daerah Gangga.

4.      Peraturan Dharmasastra, hukum-hukum suci Hindu dan khususnya Manawadharmasastra atau Hukum Manu.

Pendapat yang telah dikemukakan bahwa gerakan itu kelanjutan dari Brahmanisasi India di seberang lautan yang tempat asalnya di India Barat Laut. Patut diperhatikan bahwa inskripsi Sanskerta tertua di Asia Tenggara tidak lebih muda dari yang di India. Namun barang kali kebudayaan yang dikembangkan India tidak seluruhnya asing bagi rakyat yang menerimanya. Penyebarannya yang cepat sebagian karena kenyataan bahwa mereka mengorganisirnya dengan sepuhan Hindu, pikiran-pikiran, dan tradisi-tradisinya banyak bersamaan dengan kebudayaan mereka.

Sumber-sumber India dicari untuk menjelaskan gerakan yang penting ini. Hasilnya, aneh, mengecewakan. Keterangan dalam Kautilya Arthasastra diambil untuk menunjukkan bahwa bahwa gerakan itu sejak kurun waktu yang lebih tua dari tahun Masehi. Suatu kutipan yang menasehatkan seorang raja bagi rakyatnya sebuah negeri tua atau beru dngan merampas daerah dari yang lain atau dengan membersihkan penduduk.

Orang-orang China melengkapi para ahli sejarahdengan pandangan pertamanya tentang negara Hindu, yaitu Funan, pelopor kerajaan Kamboja. Menurut cerita mereka, Funan didirikan oleh seorang Brahmana, Kaundinya, pda abad pertama tahun Masehi.

Di teluk Menam tempat Pra Pathom dan P’ong Tuk muncul bukti tertua pengaruh India. Bukti itu berupa Fondasi bangunan dan patung-patung Budha gaya Gupta, di samping patung perunggu kecil Budha dalam gaya Amaravati yang berkembang di India antara abad kedua dan keempat. Tak ada penemuan di daerah Thailand yang lebih tua dari abad V.

Sejauh mengenai Nusantara, tak ada sesuatu yang lebih tua daripada abad V. Kutai, di Kalimantan menunjukkan tulisan-tulisan Sanskerta dari Raja Mulawarman, termasuk ke dalam bagian permulaan abad itu. Yang dari Purnawarman, di Jawa Barat termasuk ada pertengahan pada abad itu. Patung-patung Budha gaya Amaravati telah ditemukan di Kedah Sulawesi, Jawa Timur, Pelembang di Sumatera, mungkin menunjukkan adanya negara-negara Budha di daerah itu sebelum abad V, tetapi tidak ada yang diketahui tentang negara itu.

Naskah China tertua yang mencatat hubungan dengan Nusantara adalah Tsien-han-shu, buku riwayat dinasti Han yang meliputi kurun waktu 206 SM sampai 24  M. Menceritakan pengarungan lautan dari laut China Selatan ke sejumlah pulau-pulau besar dan pulau yang banyak penduduknya yang dikaitkan membayar upeti kepada China dari pemerintahan kaisar Wu  (140-86 SM). Orang-orang China pergi ke sana mencari mutiara dan batu-batu mulia.

Laporan orang-orang China berikutnya tahun 132, mungkin ada artinya dalam hubungan ini, seandainya interpretasi yang agak kurang pasti dari nama-nama yang disebut mempunyai nilai. Disebut upaca penerimaan oleh Kaisar Han untuk suatu perutusan yang membawa hadiah kehormatan dari seorang raja Ye-tiao bernama Tiao-pien.

Naskah kuno Eropa tertentu jika dipilih memberikan bukti yang sangat bernilai untuk menetapkan tahun dan memperkirakan sebab-sebab pengaruh India. Yang tertua adalah Periplus dari laut Erythrea, tulisan Yunani tentang perdagangan Yunani, Mesir dan Pengarungan lautan di Timur yang disusun kira-kira tahun 70-71.

Informasi yang nampaknya lebih pasti datang dari ahli Ilmu Bumi dari Alexander bernama Claudius Ptolomy, yang menulis pada tahun 165 atau mungkin lebih awal lagi, dan jelas menggunakan sumber-sumber yang lebih tua lagi.

Sebab-sebab penyebaran kebudayaan India di Asia Tenggara tak mudah di dapat. Dua teori yang terbuang didasarkan atas dugaan bahwa timbulnya karena ada kekacauan situasi di India yang menyebabkan sejumlah besar pengungsi mencari rumah-rumah baru menyeberangi lautan. Orang mengkaitkan penaklukan berdarah  kerajaan Kalingga oleh Kaisar Asoka dari dinasti Maurya abad III SM, yang dibayangkan menimbulkan pengungsian besar-besaran.

Yang lain mengaitkan dengan tekanan serangan Kushana pada India abad I Masehi. Pengembara-pengembara Yueh-chi yang berhasil menguasai Bactria sesudah tahun 1000 SM, beberapa waktu kemudian mulai menyebar ke arah selatan yang dikuasai orang-orang Kushana.

Selama dua abad sebelum Masehi India telah kehilangan sumber penting bagi impor logam berharga ketika gerakan pengembara memotong jalan anatara Bactria dan Siberia. Sejak itu dalam abad pertama Masehi India harus mengimpornya dari kekaisaran Romawi, tetapi akibat yang menyedihkan terhadap ekonomi kekaisaran menyebabkan kaisar Vespasianus (69-70) menghentikan terbangnya logam berharga ini dan memaksa India mencari sendiri di mana saja.

Hubunngan yang biasa antara India dengan Burma melalui laut. Dalam abad IV China mengendorkan sedemikian rupa penguasaannya di perbatasan Burma sampai pada tahun 342 daerah Yung-ch’ang dihapuskan. Sejak itu rute ini jelas ditutup sampai Ko-le-feng (748-779) dari Nanchao membukanya kembali dan dengan demikian mendorong kemajuan perkembangan ekonomi di Burma utara dan berlawanan antara Pyu di Burma dan istana T’ang di China. Bukti yang didapat di Pyu cenderung membuktikan bahwa beberapa pengaruh India masuk lewat darat ke Burma Udik. Melalui rute ini juga datang ke kerajaan T’ai di Nanchao.

Untuk mencapai negeri-negeri di bagian Timur daratan Indo-China, kapal-kapal harus melalui Malaka atau Selat Sunda. Karena tersebarnya perompak-perompak di perairan yang sempit ini orang-orang yang berpergian harus menghindarinya dengan menggunakan jalan pendek menyeberangi beberapa daratan.

Penyeberangan darat yang paling disukai adalah lewat Ithmus Kra yang sempit itu, dari Takua Pa di sebelah barat Ch’aya, di sebelah timur atau dari Kedah ke Singora. Di sebelah utara lagi ada rute dari Tavoy melalui Perlintasan Tiga Pagoda dan dari sana melalui sungai Kanburi ke lembah Menam. Dua tempat kuno, P’ong dan P’ra Pathom, terletak di rute ini. Masih lebih ke utara lagi terletak sebuah rute ke darah Menam melalui Moulmein dan Perlintasan Raheng. Kemudian hari kedua rute ini dipakai oleh Burma untuk menyerang Siam, terutama dalam abad XVI dan XVIII. Belakangan lagi masih digunakan oleh Jepang untuk menyerang Burma selama Perang Dunia II. Masih ada lagi jalan darat lain yang dipakai oleh orang-orang berpergian sebelumnya. Terletak dari Menam ke Mekong dan melintasi daratan tinggi K’orat lewat Si T’ep ke daerah Basak yang merupakan tempat lahir kerajaan Khmer di Kamboja.


Bukti-Bukti Tertua Negara Yang Terkena Indianisasi

Bukti-bukti negara-negara yang telah terkena pengaruh India: Funan dan Lin-Yin. Dari sekian banyak bukti sejarah, tanda-tanda pertama terbentuknya negara-negara yang telah digambarkan sebelumnya terdapat pada akhir abad I Masehi. Negera-negaratersebut ada tiga daerah, antara lain:

1.      Di daratan rendah dan delta sungai Mekong.

2.      Dekat Hue di Annam sekarang.

3.      Di Semenanjung Melayu.

Di samping itu, ada juga bukti-bukti yang kurang pasti seperti misalnya di Arakan dan Daratan Rendah Burma. Satu-satunya sumber informasi dan karena kelangkaan bahan arkeologi dan epigraphy adalah nama-nama tempat dalam Niddesa dan Geographicanya Ptolemy dan petunjuk-petunjuk dari sejarah dinasti China yang berhubungan dengan negara-negara Asia Tenggara.

Funan merupakan ucapan China modern dari dua suka kata yang dulu diucapkan B’iu-nam, nama kerajaan pre-Khmer yang mereka ketahui, yang tempat aslinya sepanjang sungai Mekong antara Chaudoc dan Phnom Penh. Ini bukan namanya sebenarnya, yang tidak diketahui, tetapi gelar yang dipakai oleh raja-rajanya.

Ibu kota Funan selama beberapa waktu bernam Vyadhapura, “Kota Pemburu” yang terletak di dekat bukit Ba Phonm dan dsa Banam di provindi Prei Veng di Kamboja sekarang. Pelabuhan Oc-Eo menjadi pusat penggalian para arkeoligi Perancis sekarang yang merupakan pusat pertama bagi pedagang-peagang asing yang mungkin terjadi pada abad 1 Masehi. Negeri itu terpotong oleh terusan-terusan yang tidak terhitung jumlahnya yang memungkinkan orang-orang China berpergian berlayar menyeberangi Funan dalam perjalanannya menuju Semenanjung Melayu. Pada waktu itu, Funan terlatak pada jalan raya lautan antara China dan Inda, rakyatnya adalah orang Indonesia yang pada awal sejarahnya merupakan negara suku bangsa.

Petunjuk pertama dari orang China mengenai kerajaan itu datang dari buah pena K’ang T’ai yang bersama-sama dengan Chu-ying dikirim kesana pada pertengahan abad III sebagai utusan. Ia menceritakan sejarah pendirian kerajaan itu oleh Kaundinya yang namanya disalim dalam huruf China Hun-t’ien. Menurut catatannya, raja ini adalah orang asing, yang datang dari suatu tempat yang mngkin India, Semenanjung Melayu atau bahkan pulau-pulau di Selatan.

Hubungan-hubungan dengan China diperkuat dengan sebuah misi, masih tetap rapat selama pemerintahan Fan Hsun yang berlangsung pada tahun 287. Chin History menyebutkan serentetatn misi daripadanya meliputi kurun waktu 268-287. Namun hubungan baik itu bukan tidak ada variasinya, karena beliau membuat persekutuan dengan Fan Hsiung yang naik tahta Lin-yi (Champa) pada tahun 270 dan harus mengikuti persekutuannya dalam perang 10 tahun melawan Chiao-chi (Tongking).

Keluhan gubernur Tongking bukanyang tertua menyebutkan Lin-yi dalam buku-buku sejarah China. Antara tahun 220-230 sebuah misi dikirimkan oleh salah seorang keturunan Kieu-lien ke Gubernur Kwangtung dan Tongking. Dalam catatn inilah untuk pertama kali muncul nama-nama Lin-yi dan Funan.

Dari negara yang terkena pengaruh India tertua di Semananjung Melayu yang disebut-sebut oleh orang China, beberapa dianataranya mungkin disamakan dengan daerah-daerah taklukan yang dikaitkan dengan Fan Shih-man dari Funan. Daerah-daerah itu dapat ditentukan lokasinya: Lang-ya-siu, Tan-mei-liu dan T’iu-ku-li. Yang pertama mudah di kenal yaitu Langkasuka dalam babad Melayu dan Jawa. Daerah itu membentang menyeberangi Semenanjung dari Teluk Siam ke Teluk Bangala dan menguasai salah satu lintasan darat yang pendek.


Babakan Kedua Pengaruh India

Dalam mencatat penerimaan upeti dari seorang Raja Funan bernama Chan-t’an, orang China melukiskannya sebagai orang Hindu. Chan-t’an adalah salinan huruf China dari Chandan, gelar raja-raja dari kerajan Kushana keturunan Kanishka, yang pada pertengahan abad III telah menjalin hubungan dengan Funan. Sejak itu teori yang diajukan bahwa raja ini mungkin seorang pendeta dari kerajaan itu yang lari ke Funan karena penaklukan India Utara oleh Samudragupta raja dinasti Gupta.

Penaklukan berurutan banyak ke India Selatan oleh raja ini menghasilkan penyerahan kedaulatan Pallawa dari raja-raja bawahannya dan menyebabkan kekacauan besar yang memudahkan untuk mengambarkan pelarian putra-putra mahkota, Brahmana dan Pendeta mencari rumah-rumah baru menyeberang laut dipulau-pulau di mana pengaruh India telah ada. Ini mungkin menyangkut pengaruh Pallawa yang kuat yang terdapat di Kamboja, Champa, dan Semenanjung Melayu, seperti pada kenyataan bahwa inskripsi-inskripsi dalam zaman baru memakai huruf Pallawa. Tetapi ini hanya dugaan.

Menurut Liang History salah seorang pengganti Chandanadalah seorang Brahmana dari India bernama Kiao-chen-ju, yang karena secara gaib pergi dan memerintahkan Funan. Menurut cerita ia diterima baik oleh rkyat yang memilihna menjadi raja mereka. Kemudin merubah semua aturan-aturan sesuai dengan metoda-metoda India. Namanya diduga terjemahan China dari nama Kaundinya dan dengan demikian cega yang memerintah atas clan asli Funan, dibawah pemerintahannya pengaruh India cenderung menjadi lemah dengan adany hubungan dari kebudayaan setempat.

Raja terbesar dalm sejarah Funan selanjutnya adalah Jayavarman, yang mangkat pda tahun 514 dan tahun mulai pemerintahannya tidak diketahui. Beliau mengirim saudagar-saudagar untuk berdagang di Canton. Dalam perjalanannya kembali mereka karam di pantai Champa dan seorang pendeta, Nagasena, yang bersama mereka berhasil kembali ke ibu kota di pedalaman. Dalam tahun 484 Jayavarman mengrimna ke China untuk mint bantuan melawan Lin-yi tetapi ditolak. Surat Jayavarman kepada kaisar China menunjukkan bahwa agama resmi Funan adalah Siva dan Budhisme diperaktekan juga.

Cerita ini ada dalam Southern Ch’i History yang juga berisi catatan kerajaan seperti zaman Jayavarman. Ini sebuah gambaran tentang rakyat pengaruh lautan, yang menyangkut barang dagangan dan rampasan dan senantiasa menjarah tetangga-tetangganya. Raja bersemayam di istana yang atapnya bertingkat-tingkat,  sedang rumah rakyat di bangun atas onggokan dan atapnya dari daun bambu. Rakyat melindungi tempat tinggalnya dengan pagar kayu. Pakaian nasionalnya sepotong kain yang diikatkan di pinggang. Olahraga nasionalnya ialah sabungan ayam dan adu babi. Hukuman adalah berupa siksaan. Raja naik gajah dalam mengadakan pemeriksaan umum.

Naskah berikutnya, Liang History menambahkan bukan hanya raja tetapi seluruh keluarga raja sampai selir naik gajah. Dewa langit di puja. Ini diwujudkan dalam patung tembaga, beberpa yang dengan muka dua dan empat tangan, yang lain dengan empat wajah dan delapan tangan. Ini jelas menunjukkan pemujaan Ilarihara. Mayat diperlakukan dengan empat cara: dengan melemparkan ke arus sungai, membakarnya, mengubur dalam lubang parit dan dengan menyajikanya pada burung-burung.

Pada kesempatan penerimaan suatu utusandari Jayavarman dalam tahun 503, istana Kaisar mengakui kebesaranny dengan memberikan gelar “Jenderal Pendamai di Selatan, Raja Funan”. Permaisuri yang tertua dan seeorang putra bernama Gunavarman masing-masing meninggalkan satu dalam bahasa Sanskerta, keduana menunjukkan aliran Vaisnava. Di Thap-muoi di Pleine des Joncs putr mahkota memperingati berdirinya sebuah tempat suci yang berisi jejak kaki Wishnu yang disebut Chakratir-thasvamin. Ini mengingatkan kita pada tempat suci Punawarman di Jawa dengan jejak kaki yang dihubungkan dengan jejak kaki Vishnu.

Rudravarman yang menggantikan ayahnya Jayavarman tahun 514 dilukiskan dalam Liang History perampas mahkota, dilahirkan dari selir yang pada waktu ayahya meninggal membunuh pewaris tahta resmi,mungkin Gunavarman. Ketika beliau meninggal, mungkin sekitar tahun 550, sebuah gerakan terjadi di tengah daerah Mekong dibawah pimpinan dua bersaudara, Bhavavarman dan Chitrasena, dalam keadaan yang misterius ini kekuasaan Funan jatuh.

Funan adalah kekuatan besar pertama dalam sejarah Asia Tenggara seperti Romawi dalam sejarah Eropa, prestisenya hidup lama setelah kejatuhanna. Tradisinya terutama pemujaan gunung suci dan putri Naga diterima oleh Raja-raja Khmer di Kamboja.

Bhadravarman telah mendirikan tempat sucinya yang pertama di daerah Mison dan mengabadikannya bagi Siva-Bhadresvara. Hubungan yang sedemikian antara nama pendiri kerajaan dengan nama Siva menjadi adat yang terbesar luas selanjutnya di negara-negara di mana tradisi Siva tentang kerajaan menang. Sebuah prasati bukit karang Bhadravarman menarik perhatian secara khusus karena berisi contoh tertua teks yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Prassti ini menunnjukan bahwa agama istana adalah Siva, dewa Siva diwujudkan dengan sebatang lingga, yang merupakan contoh tertua di Asia Tenggara.

Prasati Sanskerta Champa yang tertua di temukam sebelum prasati Sanskerta di Semenanjung Melayu, Jawa dan Kalimantan, telah memberikan beberap keterangan bukti yang berasal pada IV. Kemudian ditemukan lagi sebuah lempengan batu berwarna disatu puing rumah bata yang mungkin merupakan kamar pendeta Budha di daerah dekat bukit Meriam di Keddah.

Kaliamantan menunjukan bukti-bukti pengaruh India di tujuh prasasti yang di temukan di Kesultanan Kutai di bagian timur pulau itu di suatu tempt suci yang upacara agamanya belum dapat dijelaskan secara pasti. Pasasti itu dikatakan kira-kira tahun 400 dan keluar dari Raja Mulawarman yang menyebut kakeknya bernama Kuduga dan ayahnya bernama Asvavarman.

Prasati tertua di Jawa datang dari pedalaman Jakarta ibu kota Indonesia di kaki gunung dekat Bogor. Tiga prasati bukit bertahun kira-kira 450 telah ditemukan. Yang keempat termasuk dalam kurun waktu yang sama ditemukan di sebelah timur Tanjung Periok pelabuhan Jakarta. Penulisnya Raja Purnawarman dan Taruma yang melaksanakan upacara-upacara Brahman dan menunkukan pekerjaan irrigasi yang mula-mula sekali diketahui di Jawa. Dua prasasti iyu memuat jejak kaki, satu jejak kaki gajah. Beliau digambarkan sebagai panglima perang besar dan ini tanda biasa bagi ssebuah daerah yang diduduki setelah ditaklukan.


Pengaruh India Dan Tiongkok

Tentang masuknya pengaruh dari India, kita baru mendapatkan buktinya juga dari permulaan tarikh masehi, tapi catatan di India yang dapat dibaca didalam salah satu dari kedua efos besar yaitu Ramayana, menunjukkan penyebutan salah satu wilayah Asia Tenggara yaitu  Swarna Dwipa dan Jawa Dwipa. Kalau sumber ini benarkita ikuti, maka berarti Asia Tenggara terutama Indonesia telah dikenal dan dicatatkan di India pada abad IV SM. Kalau ini benar, hubungan kedua wilayah ini telah ada paling lambat pada abad VI SM.

Hubungan dagang anatar Asia dengan luar pada abad I dan II Masehi merupakan masa perluasan. Perluasan ini menambah pengetahuan Ilmu Bumi terutama mengenai nagara-negara yang secara langsung atau tidak langsung mengikuti aktifitas dagang itu.

Bukti-bukti yang lansung menunjukkan tentang penyebaran pengaruh India di Asia Tenggara ini pada abad IV samapi abad I Masehi sangat jarang. Berita dari Tiongkok yang merupakan bukti tak langsung menyebut sebagai Negeri di Kamboja yang telah mendapat pengaruh India pada abad I Msehi adalah Funan yang dikatakan didirikan oeh seorang pendeta Kausynya.

Bukti-bukti berupa prasasti menunjukkan sifat yang berbeda dalam suasana Kultus Siwa disamping Budhisme. Kultus Wisnu baru ditemukan buktinya pada abad V. Termasuk kedalam bukti-bukti yang tergolong dalam kelompok yang tertua adalah prasasti Vocanh yang merupakan prasasti Budha yang berbahasa Sanskerta dari Kamboja. Dari Champa juga sebuah prasati bahasa Sansekerta juga dari abad IV dari raja Badra Varman dan menunjukkan pemujaan kepada Siwa.

Terlepas dari isi yang terkandung dan dikatakan oleh masing-masing prasasti itu, maka prasasti dapatlah kita pakai sebagai bahan untuk menceritakan dan menggunakan jalan lintas serta lululintas perdagangan serta pelayaran dagang pada waktu itu.

Perkenalan yang terjadi antara para kepala dengan pedagang-pedagang serta pada waktunya dengan kebudayaan India adalah kemudian dikuti oleh suatu kebutuhan baru pada para kepala dan rakyatnya. Maka tuntutan kebutuhan yang baru itu mengharuskan mempelajari kebudayaan bari dan hal ini adalah menjadi sebab untuk belajar pada kaum Brahmana Hindu dan Padri Budha. Dengan cara yang demikian maka masuklah kebudayaan Hindu itu dan tertanam serta berpenagruh didalam kehidupan serta struktur kemasyarakatan Asia Tengara terutama dalam bidang bahasa dan sastra pada waktu permulaan.

Di bidang bahasa terlihat prasasti dan buku-buku sastra terdapat pemakaian kata-kata Sangskerta untuk dipakai dalam hal kata asli tidak ada atau untuk menjaga formula ayat suci keagamaan tidak terganggu kesuciannya. Begitu juga pemakaian aksara dalam prasasti-prasasti memberi petunjuk tambahan untuk daerah yang dihubungi di India. Dalam hal ini penting kedudukan Chola dan Pallawa pada lima abad I terikh Masehi.

Berdasarkan faktor-faktor historis yang dapat dikumpulkan di atas, dapatlah direkontruksikan situasi pemasukan pengaruh India ke Asia Tenggara pada waktu permulaan itu. Jelas kelihatan bahwa pada waktu yang hampir bersamaan seluruh Asia Tenggara mendapat pengaruh itu.

Pengaruh ini bersumber dari India Selatan, tapi akibat perbedaan kebutuhan setempat. Misalnya maka hasil yang diproduksi berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan setempat kontak dan perkenalan pertama adalah melalui perdagangan yang kemudian oleh para kepala dan rakyat setampat dipergunakan untuk menambah kemajuannya. Jalan dagang tersebut adalah pulang pergi menghubungkan India Selatan, Muang Thai, Semenanjung Melayu, Indonesia, Kamboja, Champa, Tiongkok. Apabila diadakan kalkulasi tentang pengaruh India di Asia Tenggara maka ditarik kesimpulan bahwa pengaruh-pengaruh tesebut dibidang-bidang tulisan, perkayaan bahasa dengan memakai kata-kata Sangskerta, agama Hindu dan agama Budha, nithologi Hindu, beberapa tehnik kesenian, konsepsi kerajaan dan undang-undang.


Kesimpulan

Sejauh apa yang telah dibahas tentang pengaruh kebudayaan India di Asia Tenggara ini adalah kesimpulan yang dapat kita ambil bahwa Kebudayaan Austronesia  tidak mungkin berkembang sendiri di wilayah Asia Tenggara, karena kawasan tersebut menjadi arena pertemuan dua kebudayaan besar Asia yang telah lama berkembang, kedua kebudayaan itu adalah India dan China. 

Sebelum dipakai nama Asia Tenggara, tidak sedikit istilah atau nama yang digunakan untuk menggambarkan kawasan maupun kawasan yang kini disebut Asia Tenggara. Nama Asia Tenggara itu merupakan istilah yang relatif baru, artinya dikenal dan diakui secara internasional sejak Perang Pasifik. Meskipun ada upaya untuk mengganti nama Asia Tenggara dan istilah lain, kenyataannya dunia internasional tetap memakai nama tersebut.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kebudayaan India pernah masuk dan berkembang di Asia Tenggara, yaitu dengan adanya agama Hindu dan agama Budha yang dianut oleh sebagian penduduk Asia Tenggara. Dan kedua agama ini menjadi pintu gerbang untuk mengkaji dimulainya zaman sejarah bagi negara-negara di Asia Tenggara.
 
Di awal tarikh Masehi, dalam periode protosejarah, dapat dipastikan banyak pelaut dan niagawan dari China dan India saling berkunjung. Para pelaut tersebut sudah pasti melalui laut, selat, dan pantai-pantai Asia Tenggara. Pada masa itulah terjadi interaksi antara para pelaut China dan India dengan penduduk Asia Tenggara yang merupakan bangsa besar Austronesia yang telah mengalami diasporanya.

Masuknya kebudayaan India di Asia Tenggara melalui jalur perairan dan darat yaitu dengan melalui jalur perdagangan. Sehingga kemudian kebudayaan India diorganisir oleh penduduk Asia Tenggara sehingga menciptakan sebuah kebudayaan dalam bentuk yang baru. Namun tidak semua masyarakat Asia Tenggara meniru kebudayaan India, tetapi sebagiannya lagi tetap bertahan dan mewarisi tradisi yang telah ada.

Apabila diperhatikan secara saksama, maka banyak bangsa Asia Tenggara yang pada awal tarikh Masehi justru menerima kebudayaan India. Penduduk di wilayah Jawa, Sumatera, Bali, Semenanjung Melayu, Tumasik (Singapura), Thailand, Khmer, Champa, Myanmar yang menerima aspek-aspek budaya India. Adapun Laos dan Vietnam banyak dipengaruhi oleh budaya China, walaupun pengaruh kebudayaan India  meninggalkan pula jejaknya walau sedikit di Laos dan Vietnam.

Pengaruh kebudayaan India di Asia Tenggara maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh-pengaruh tesebut dibidang-bidang tulisan-tulisan, perkayaan bahasa dengan memakai kata-kata Sangskerta, agama Hindu dan agama Budha, mithologi Hindu, pemujan kepada arwah, prasasti-prasasti, beberapa tehnik kesenian, konsepsi kerajaan, undang-undang, pemakaian nama atau bahasa Sanskerta dan pemakaian gelar-gelar oleh Raja.

Sumber

D. G. L, Hall. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Penerbitan Usaha Nasional – Surabaya - Indonesia.
Drs. M. Arifin Gapi. Diktat Kuliah, Sejarah Asia Tenggara. Banda Aceh: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Darussalam-Banda Aceh.

1 komentar:

  1. Banyaknya Candi dan perkampungan India di Indonesia dan Asia Tenggara membuktikan pengaruh kebudayaan dan komunitas India di Indonesia dan Asia Tenggara

    BalasHapus