Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

3 Desember 2012

Dapatkan Hikmah Dari Sepengkal Sejarah


Generasi kita diwariskan dari leluhur (Endatu) secara turun temurun dan leluhur kita pernah hidup di zaman dahulu kala. Dalam perjalanan sejarah Aceh, terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita sejak berakhirnya zaman Prasejrah Indonesia. Babak baru sejarah Aceh dimulai sejak Islam singgah di bumi Serambi Mekkah (Aceh) ini di ujung Barat pulau Sumatera. Saat itu dikenal adanya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Islam Peureulak (840 M/225 H), Kerajaan Islam Samudera Pasai (560 H/1166 M), Kerajaan Tamiang, Pedir dan Meureuhom Daya (Lamno). Kemudian, oleh Sultan Ali Mughayat Syah (601 H/1205 M) Aceh disatukan menjadi Kerajaan Aceh Darussalam dengan ibukota Bandar Aceh Darussalam yang bergelar Kutaraja. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam genetik seseorang terdapat catatan evolusi panjang kehidupannya sampai saat ini.


Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Sejarah, Zaman Hindu, Zaman Budha, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Generasi kita pada saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Leluhur kita pernah beragama tersebut dan generasinya telah terwariskan kepada kita yakni “Islam.”

Kalaupun kita mempercayai pandangan Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) yang mengemukakan teori siklus ‘lahir-tumbuh-mandek-hancur’ dari suatu kehidupan sosial atau suatu peradaban, dan pada kenyataannya, kerajaan-kerajaan di Nusantara juga mengalami proses tersebut, akan tetapi semua pengalaman tersebut telah  tercatat dalam DNA kita. Adalah perjuangan sebuah bangsa untuk mengembangkan karakter bangsa yang baik dan memutus siklus karakter bangsa yang tidak baik.

Yang namanya ‘kisah’ tentu saja sulit dicari keotentikannya, akan tetapi bagaimana pun kita tetap dapat mengambil hikmah dari sebuah ‘kisah’, khususnya “Kisah yang bernama Aceh”.

Kita harus mulai hidup berkesadaran. Pertama kita sadari bahwa potensi genetik kekerasan masih berada dalam diri. Keributan dalam pertunjukan dangdut dan sepakbola, adalah bukti masih adanya potensi kekerasan dalam diri. Latihan meditasi atau olah batin dapat melembutkan diri. 

Selanjutnya kita harus berjuang membuang potensi genetik lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, karakter baru dan akhirnya membuat perbaikan genetik. Dari studi genetika terbukti bahwa kita telah mengalami perubahan yang luar biasa, maka perbaikan karakter sudah pasti dapat dicapai dengan suatu perjuangan.

Sudah waktunya  kita menghormati jasa leluhur dan Endatu kita, sudah waktunya kita menghormati Warisan Budaya dan Adat kita Aceh yang sekarang kita banggakan.  Sujudku bagi Ibu Pertiwi. Terima Kasih ku ucapakn kepada Guru ku yang tulus memberikan sebuah pelajaran yang berguna bagiku. (Chaerol Riezal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar