Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

21 Januari 2013

Tengku Peukan Syahid Setelah Mengumandangkan Azan

Makam Tengku Peukan yang berada di Pusat Kota Blangpidie, tepatnya di depan Mesjid Jamid Blangpidie. Ini merupakan bukti sejarah perlawanan terhadap bangsa asing di Bumo Breuh Sigupai. Serangan pada 11 September 1926 yang membuat Tengku Peukan syahid, menjadi saksi dan jejak sejarah keheroikan para pejuang dalam menghadapi eksploitasi dan kolonialisasi Belanda. Letnan H. Colijn seorang controleur di Tapaktuan pada 3 juni 1899 mengumumkan kenegerian Tapaktuan dan Pantai Barat Daya (sekarang Kabupaten Abdya) sebagai wilayah kekuasaannya.


Pernyataan yang disampaikan itu membuktikan keinginan bangsa asing untuk menguasi Abdya terus berlanjut usai Portugis menguasai Lama Tuha hingga teluk Surin dan Amerika membumi hanguskan kerajaan Kuala Batu di Lama Muda karena keinginan menguasai perdagangan di ujung pulau Sumatera. Kabupaten Abdya dengan kekayaan alamnya secara geografis berada antara 03º 05’-3º 80’ Lintang Utara (LU) dan (96º.02’-97º.23.03º Bujur Timur (BT). Secara garis besar, wilayahnya berada di belahan utara garis khatulistiwa sehingga beriklim tropik.

Dengan kondisi tersebut, sejumlah komoditi palawija seperti Lada, pala, cengkeh tumbuh subur dan berlimpah ruah di Bumo Breuh Segupai. Kekayaan alam ini membuat nenek monyang Abdya saat itu sudah melakukan perdagangan dengan nelayan negara asing. Namun sebahagian dari mareka bukan saja ingin membeli hasil alam. Tetapi ingin menguasai daerah yang membuat pejuang saat itu marah dan melakukan perlawanan seperti yang dilakukan oleh Tengku Peukan pada tahun 1926, Tengku Sabi dan Tengku Ben Makmud sebelumnya.

“Ketiga pejuang ini syahid, dalam memperjuangkan Bumo Brueh Sugupai dari tangan penjajahan Belanda, seperti Tengku Ben Makmud dibuang ke Ternate setelah ditangkap Belanda. Tengku Sabi diarak keliling kota Blangpidie hingga syahid dan Tengku Peukan tertembus peluru saat mengumandangkan azan usai menyerang tangsi Belanda di kota Blangpidie,” urai Nasrun Yunan salah seorang pemerhati sejarah Abdya kepada Rakyat Aceh.

Perlawanan rakyat terhadap Belanda yang melakukan invansi ke Pantai Barat Abdya sebelumnya juga dilakukan oleh Teuku Ben Makmud yang pada tahun 1885 mulai memerintah di Kerajaan Blangpidie. Kekuasaan itu diterima setelah raja sebelumnya Teuku Raja Cut meninggal dunia pada tahun 1884.

Perjuangan Teuku Ben Mahmud ditandai dengan penyerangan bivak Belanda pada tahun 1901 dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1905 dengan 200 pasukannya yang menggunakan senjata api dan kelewang. Hingga akhirnya ditangkap dan diinternir oleh Belanda ke Maluku. Setelah Teuku Bin Mahmud diasingkan, perjuangan rakyat Abdya tidak kunjung padam. Tanpa diduga-duga kembali terjadi perlawanan dari Manggeng yakni Tengku Peukan.


Tengku Peukan tergolong seorang ulama yang kharismatik dan berpengaruh di Manggeng dan sekitarnya saat itu. Lahir dari pasangan Tengku Padang Ganting dan Siti Zalekha pada tahun 1886 di Desa Alue Paku Kecamatan Sawang Aceh Selatan merupakan seorang ulama yang berpengaruh di daerah tersebut. Sebagai seorang ulama dan tokoh masyarakat yang berpengaruh, Tengku Peukan semakin berbahaya di mata Belanda. Dakwahnya dianggap memancing perlawanan sehingga sering dimata-matai oleh kaki tangan Belanda.

Hingga akhirnya Belanda mencurigai aktifitas dakwah Tengku Peukan dengan melakukan pemboikotan. Akibatnya, Tengku Peukan marah dan tersinggung.Belanda tidak berhenti disitu, mareka terus mencari kesalahan dengan berbagai strategi. Salah satunya adalah memerintahkan kaki tangannya menagih uang blesting atau pajak tanah yang sudah tiga tahun dibebaskan oleh ulebalang Manggeng.

Desakan agar pajak tersebut dilunasi dalam waktu singkat tidak diindahkan. Tengku Peukan tetap bersikeras tidak membayar dan tidak akan tunduk kepada Belanda. Akibat pembangkangannya, Belanda mulai mencari Tengku Peukan untuk ditahan. Namun usaha tersebut dilawan dengan membuat kekuatan.

Tengku Peukan terus melakukan perlawanan dengan merancang penyerangan tangsi di kota Blangpidie yang kini daerah sekitar Kodim 0110 Abdya. Pada malam menjelang peristiwa penyerangan, Tengku Peukan dan pasukannya terlebih dahulu wirid dan berzikir untuk membersihkan diri dan penyerahan diri secara sakral yang dilakukan di Meunasah Ayah Gadeng Manggeng.

Setelah breefing, Tengku Peukan lalu mengarahkan pasukannya menuju Blangpidie dengan menempuh jalan kaki sejauh 20 kilometer. “Longmarch tengku Peukan itu pernah dilakoni oleh Pemerintah Abdya saat memperingati malam 17 Agustus dengan membawa obor dengan pakaian serba hitam,” kata Faisal yang saat itu mengikuti acara tersebut.

Dalam perjalanan dari Manggeng menuju Blangpidie anak Tengku Peukan ditunjuk sebagai pembakar semangat dengan pekikan suara takbir disepanjang jalan. Para pasukan yang semua menggunakan seragam hitam hitam dengan celana di lipat hingga lutut untuk mengobarkan semangat jihad. Sementara panglima menggunakan selempang kuning. Menjelang fajar, seluruh anggota pasukan Tengku Peukan telah tiba di Blangpidie. Sambil melepas lelah dan dahaga, pasukan melakukan kembali breefing dan mengatur strategi penyerangan di Balee Tengku di Lhoong Dayah Geulumpang Payong Kemukiman Kuta Tinggi.

Setelah strategi matang dengan penyerangan dari tiga sektor, Tengku Peukan langsung memberi komando perang ke tangsi Belanda yang saat itu masih lelap tidur. Serangan sporadis pada hari Jum’at tanggal 11 September 1926 yang dilakukan oleh Tengku Peukan membuat serdadu Belanda di dalam bivak kucar kacir. Akibat serangan tersebut tangsi Belanda banjir darah.

Sebagai wujud rasa syukur. Tengku Peukan kemudian mengumandangkan azan di mesjid yang ada didepan tangsi Belanda yang saat ini Mesjid Jamid Blangpidie depan Kantor Bank Aceh. Saat itulah seorang marsose yang selamat melepaskan tembakan yang membuat Tengku Peukan syahid ke pangkuan Bumo Persada Blangpidie.

Setelah semuanya terkendali Tengku Peukan kemudian dimakamkan tidak jauh dari lokasi tertembak, tanpa dimandikan lebih dulu sebagai mana hal yang berlaku terhadap seorang yang mati syahid. Dalam penyerangan itu putra Tengku Peukan, Tengku Muhammad Kasem juga gugur bersama lima pejuang lainnya.

Tengku Peukan telah gugur sebagai pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tanpa mengharapkan imbalan apapun kecuali ridha dari Allah SWT semata. Sampai sekarang makam beliau yang ada di depan kompleks mesjid Jamik Blangpidie banyak dikunjungi oleh pejabat dan masyarakat, termasuk sejumlah acara resmi saat memperingati hari Pahlawan.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar