Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

15 Januari 2014

Perlawanan Laksamana Keumala Hayati Terhadap Segala Bentuk Imperialisme Dan Kolonialisme Eropa

Oleh:

Afriansyah

Fitrianadewinta

Amul Hustni

Aceh terletak di ujung bagian Utara pulau Sumatera, bagian paling barat dan paling utara dari kepulauan Indonesia. Secara astronomis dapat ditentukan bahwa daerah ini terletak antara 95’ 13’ dan 98’ 17’ bujut timur dan 2’ 48’ dan 5’ 40’lintar untara. Dengan melihat posisinya yang demikian, Aceh dapat disebut sebagai pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia. Karena letaknya yang sangat strategis ini dalam perjalanan sejarahnya Aceh banyak dikunjungi oleh bangsa asing dengan berbagai kepentingan perdagangan,diplomasi,dan sebagainya. Kedatangan bangsa asing ini merupakan salah satu hal penting bagi perkembangan Aceh baik secara politik,kultur,dan ekonominya. Meski pun demikian diantara para pendatang asing  tersebut banyak yang melakukan tindakan-tindakan yang didorong oleh kolonialisme dan imprialisme, baik di Aceh dan kawasan sekitarnya. Oleh karena itu timbullah sikap antagonistis dan reaksi perlawanan oleh rakyat Aceh. Perlawanan-perlawanan itu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi pihak yang bersangkutan. Bansa asing yang pertama kali melakukan kontak dan berkonflik dengan Aceh yaitu bangsa Portugis. 

Kedatangan bangsa Portugis pada Abad ke 16 M,merupakan awal usahanya merebut Malaka dari tangan Aceh, dan interverensinya ke dalam kerajaan Aceh di sekitar Selat Malaka telah menimbulkan konflik dengan Aceh. Aceh yang pada saat itu telah menjadi kerajaan besar mencoba melawan dan mengusir bangsa asing tersebut dari kawasan Selat Malaka. Konflik Aceh dan Portugis berlangsung sepanjang Abad 16 hingga akhir perempat Abad 17 M. dalam konflik itu banyak muncul figure-figur atau tokoh terkemuka dari Aceh yang salah satunya yaitu Laksamana Keumalahayati dari Armada Inong Balee.

Malahayati Merupakan Keturunan Dari Darah Biru

Dalam abad ke 16 sejarah pernah mencatat pernah melahirkan seorang tokoh wanita bernama “Keumalahayati” atau yang lebih dikenal dengan nama Malahayati.Adapun nama Keumala dalam bahasa Aceh itu sama dengan Kemala yang berarti sebuah batu yang indah dan bercahaya,banyak khasiatnya dan mengandung kesaktian.


Berdasarkan sebuah Manuskrip (M.S.) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysiadan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M Keumalayahayati atau Malahayati adalah berasal dari kalangan bangsawan Aceh dari kalangan sultan-sultan Aceh terdahulu.Ayahanda Malahayati bernama laksamana Muhammad Syah  kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M.Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putera dari Sutan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) pendiri dari kerajaan Aceh Darussalam.


Dengan demikian berarti bahwa Malahayati berasal dari kalangan darah biru,artinya dari kalangan bangsawan tinggi Aceh.Sedangkan dilihat dari silsilah menunjukkan bahwa ayah dan kakeknya Malahayati,mereka adalah Laksamana Angkatan laut.Sehingga jiwa bahari yang dimiliki oleh ayah serta kakeknya itu sangat berpengaruh pada perkembangan pribadinya.Oleh karena Sang ayah dan Sang kakek berjiwa pelaut,rupanya bakat dan jiwa bahari ini diwarisi oleh Malahayati.Dia ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya.

Sepanjang catatan sejarah,tahun kelahiran maupun wafatnya Malahayati belum diketahui dengan pasti.Hanya dapat dipastikan bahwa masa hidupnya Malahayati adalah sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 Masehi.

Malahayati Menjabat Sebagai Komandan Protokol Istana


Sebagai seoranag perwira muda lulusan Akademi Militer Baitul Makdis di Aceh,Malahayati memperoleh kehormatan dan kepercayaan dari Sultan Alaiddin Riyat Syah Al Mukammil (1589-1604) diangkat sebagai komandan protocol Istana Darud-Dunia dari kerajaan Aceh Darussalam.Jabatan sebagai komandan protocol Istana bagi Malahayati adalah merupakan jabatan yang tinggi dan terhormat,disamping besar tanggung jawabnya.Karena selain menjadi kepercayaan Sultan, menguasai soal etika dan keprotokolan sebagaimana lazimnya yang berlaku disetiap Istana kerajaan dimanapun di Dunia.Bersamaan dengan pangkatan Malahayati sebagai Komandan protocol Istana,diangkat pula CUT LIMPAH sebagai pemimpin rahasia Istana.

Malahayati Menjabat Sebagai Panglima Armada Inong Balee

Sejarah hidup Malahayati mengingatkan kita pada sejarah hidup Cut Nyak Dien.Betapa tidak,pada waktu Teuku Umar gugur dalam pertempuran melawan Belanda,maka Cut Nyak Dien bertekat untuk meneruskan perjuangan sang suami.Demikian pula halnya dengan Malahayati.Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riyat Syah Al Mukammil (1589-1604) terjadi pertempuran laut yang dasyat antara Armada Selat Malaka Aceh dengan Armada Portugis.Dalam pertempuran tersebut,Sultan Al Mukammil sendiri yang memimpin armada Aceh dengan dibantu oleh dua orang Laksamana.Pertempuran Teluk Haru itu berakhir dengan hancurnya Armada Portugis,sementara dua orang Laksamana Aceh bersama sekitar 1000 prajurit syahid sebagai kusuma bangasa.Adapun salah seorang laksamana yang gugur dalam pertempuran Teluk Haru itu,ialah suami dari Laksamana Malahayati yang menjabat sebagai Komandan protocol istana Darud-Dunia.


Kemenangan Armada Selat Malaka Aceh atas Armada Portugis sudah tentu disambut gembira oleh seluruh rakyat kerajaan Aceh Darussalam.Begitu pula Malahayati merasa gembira dan bangga atas kepahlawanan sang suami yang telah gugur di medan perang,tapi hatinya marah dan geram.Dia mengajukan permohonan kepada Sultan Al Mukammil untuk membentuk sebuah Armada Aceh yang prajurit-prajuritnya semuanya para wanita janda,yang suami mereka gugur dalam pertempuran Teluk Haru.Permohonan Malahayati dikabulkan Sultan,untuk itu Laksamana Malahayati diangkat sebagai panglima Armadanya.Armada tersebut dinamakan Armada Inong Balee (Armada Wanita Janda) dengan mengambil Teluk kraung Raya sebagai pangkalannya,atau nama lengkapnya Teluk Lamreh Kreung Raya.


Armada Inong Balee dibawah pimpinan Laksamana Mlahayati pada waktu pembentukannya hanya berkekuatan sekitar 1000 orang janda muda.Tapi kemudian berangsur-angsur diperbesar menjadi 2000 orang.Kemudian tambahan personil ini menurut Ali Hasjmy tidak lagi terdiri dari janda-janda muda,tapi para gadis-gadis muda yang gagah berani.John Darwis seorang berkebangsaan Inggris yang menjadi nahkoda pada sebuah kapal Belanda yang pernah berkunjung ke Aceh,sewaktu Laksamana Malahayati menjadi panglima armada,menyebutkan bahwa kerajaan Aceh pada masa itu memiliki perlengkapan armada laut yang terdiri dari 100 buah kapal perang,diantaranya ada yang berkapasitas muatan sampai 400-500 penumpang.Adapun yang menjadi pemimpinnya adalah laksamana wanita,yaitu Malahayati.Pada masa itu kapal-kapal perang itu dilengkapi dengan meriam.Kekuatan Armada Angkatan Laut Aceh pada waktu itu termasuk yang terkuat di Asia Tenggara.

Peristiwa Cornelis De Houtman

Kekuatan Malahayati sebagai Laksamana mulai memasuki ujian berat ketika untuk pertama kalinya konflik antara kerajaan Aceh dengan kapal dari pihak Belanda. Pada tanggal 21 Juni 1599 dua buah kapal Belanda yang bernama “De Leeuw” dan “De Leeuwin” berlabuh di pelabuhan kerajaan Aceh. Kedua kapal tersebut dipimpin oleh dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman. Pada mulanya pemimpin kapal tersebut mengatakan bahwa mereka dating ke Aceh untuk melakukan hubungan dagang dengan Aceh yang mana pada saat itu Aceh merupakan salah satu penghasil lada hal tersebut disambut hangat oleh Sultan Aceh karena dengan adanya hubungan tersebut dapat membangun pasaran yang baik bagi hasil-hasil bumi kerajaan Aceh, khususnya lada.


Akan tetapi saying dua bersaudara Houtman ini menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka, mereka ternyata membuat manipulasi dagang,mengacau,menghasut dan sebagainya. Kemudian  pihak kerajaan Aceh pun tidak tinggal diam Sultan Alaiddin Riyat Syah Al Mukammil yang memimpin kerajaan Aceh Darussalam pada saat itu segera memerintahkan Laksamana Malahayati untuk melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal tersebut. Dalam incident tersebut Cornelis De Houtman tewas ditikam oleh Malahayati dan beberapa awak kapal nya juga ikut tewas dalam incident tersebut, sedangkan saudaranya Frederick De Houtman ditawan dan dijebloskan ke tahanan Kerajaan Aceh.

Selama 2 tahun mendekan ditahanan Frederick De Houtman berhasil menyusun sebuah karya ilmiah berupa subuah kamus bahasa Melayu-Belanda yang merupakan kamus Melayu-Belanda pertama di Nusantara. Selang beberapa lama setelah peristiwa tersebut, pada tanggal 21 November 1600 datang lagi kapal dari Belanda ke Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Paulus Van Caerden, ternyata sebelum memasuki pelabuhan Aceh mereka telah melakukan sebuah tindakan yaitu, menjarah muatan dari kapal dagang Aceh, muatan dari kapal Aceh tersebut adalah lada setelah mengambil muatan kapal mereka menenggelamkan kapal dagang tersebut dan keudian meninggalkan pantai Aceh begitu saja. Setelah peristiwa tersebut datang lagi rombongan dari Belanda yang dipimpin oleh Laksamana Jacob Van Neck, rombongan yang dipimpin oleh Jacob ini tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Van Caerden. Sewaktu mereka berlabuh di ibu kota Kerajaan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601 mereka memperkenalkan diri kepada Sultan Aceh sebagai pedagang dari Belanda yang ingin membeli lada dari Aceh. Begitu mengetahui bahwa mereka berasal dari Belanda Malahayati langsung memerintahkan anak buah nya untuk menawan mereka. Kemudian Malahayati memberitahu kepada Jacob bahwa dua buah kapal Belanda sebelumnya telah menenggelamkan kapal milik Aceh dan mengambil lada tanpa bayaran, karena itu sebagai ganti ruginya sultan memerintahkan untuk menawan setiap kapal dan orang-orang Belanda yang datang ke Aceh. Menjelang tahun 1602 pedagang-pedagang bangsa Belanda lainnya, di bawah pimpinan Gerard De Roy dan Laurens Bicker dengan beberapa kapal mengunjungi Aceh. Mereka datang ke Aceh atas perintah pangeran Maurits untuk menjalani hubungan persahabatan. 


Kedua utusan dari pangeran Maurits disuruh menyampaikan beberapa hadiah dan sepucuk surat isi dari surat itu antara lain,permohonan pangeran agar sultan Aceh membebaskan tawanan mereka yaitu orang-oranga belanda yang mereka tawan termasuk membebaskan Frederick De Houtman. Laurens Bicker juga menyampaikan penyesalan atas perbuatan yang dilakukan oleh Van Caerden dan para awaknya dulu. Ia mengatakan sekembalinya ia ke negeri Belanda ia akan menuntut kompeni Van Caerden atas tindakanya. Ternyata Bickers tidak hanya sekedar berbasa-basi saja janjinya tersebut benar-benar ditepati, hal itu terbukti dari hukuman denda yang dijatuhkan oleh mahkamah Amsterdam atas Van Caerdens yaitu keharusannya membayar denda sebesar 50.000 gulden kepada pihak Aceh.

Akhir Hidup Dari Malahayati


Pada tanggal 6 Juni 1602 James Lancaster, seorang perwira dari Angkatan Laut Inggris tiba di pelabuhan Aceh bersama rombongannya. Ia membawa sepucuk surat dari Ratu nya, Elizabeth I untuk disampaikan kepada Sultan Aceh. Sebelum menghadap ke Sultan Lancaster terlebih dahulu berhadapan dengan Malahayati setelah perundingan dengan Malahayati baru lah rombongan Inggris melakukan perundingan dengan Sultan Aceh. Ledatangan orang-orang Belanda dan Inggris ini tidak menyenangkan pihak Portugis. Kemudian pihak Portugis mencoba merebut sebuah pulau yang terletak di Pantai Aceh. Tujuannya adalah untuk mendirikan sebuah benteng ditempat itu,namun hal itu ditentang oleh pihak Aceh. Kemudian 0rang-orang Portugis yang dipimpin oleh Alfonso De Castro menyerang Aceh. Dalam pertempuran di Teluk Kreung Raya bersama dengan Darma Wangsa pihak Aceh berhasil mengusir pihak Portugis namun sayang Malahayati gugur dalam pertempuran tersebut. Hingga sampai sekarang para ahli sejarah belum mengetahui kapan pastinya lahir dan wafatnya Laksamana Malahayati. Jenazah Malahayati,pahlawan puteri kerajaan Aceh Darussalam ini di makamkan di lereng bukit kota dalam,sebuah bukit yang terletak di Desa Nelayan Krueng Raya,jauh nya skitar 34 KM dari kota Banda Aceh.

Kesimpulan

Malahayati merupakan salah satu keturan dari Laksamana Muhammad Syah yang merupakan keturunan bangsawan Aceh.Malahayati diperkirakan hidup sekitar akhir abad ke-15 dan pada awal abad ke-16 Masehi.Malahayati merupakan salah satu srikandi dari Aceh yang sangat berpengaruh untuk kerajaan Aceh Darussalam yang mana pada saat pemerintahan Sultan Alaiddin Riyat Syah Al Mukammil (1589-1604 M) ia menjabat sebagai seorang protocol istana dan sebagai panglima di Armada Inong Balee.Dimasa kepemimpinannya Armada Inong Balee banyak melakukan penyerangan diantaranya penyeranagan terhadap kapal-kapal dagang belanda yang pada peristiwa tersebut menewaskan Cornelis de Houtman dan penyerangan terhadap kapal-kapal Portugis yang akhirnya menewaskan Laksamana Malahayati.Hingga sekarang para ahli sejarah belum bisa memastikan kapan tepatnya lahir dan wafatnya Laksamana Malahayati.

Sumber:

Hasjmi,A. 1977. 59 Tahun Aceh Merdeka Di Bawah Pemerintahan Ratu. Jakarta: Bulan Bintang.

Kurdi, Maulidi. (2009). Aceh Di Mata Sejarawan. Banda Aceh: Lembaga Kegiatan Agama  dan  Sosial Banda Aceh.

Salam, Solichin. (1995). Malahayati Srikandi Dari Aceh. Jakarta: Gema Salam.

Wakhid. (2011). Srikandi Di Selat Malaka. Dalam Majalah Paras, Edisi Februari 2011.

Zainudin, H.M. (1961). Tarich Atjeh Dan Nusantara. Medan: Pustaka Iskandar Muda.



Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Sejarah Universitas Syiah Kuala Angkatan 2012 Banda Aceh – Darussalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar