Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

6 April 2014

Singa Padang Pasir; Saddam Hussein

Saddam Hussein Abd al-Majid al-Tikriti lahir di Al-Awja, Irak pada tanggal 28 April 1937. Dalam bahasa Arab, nama Saddam berarti orang yang keras kepala atau dia yang menantang, nama Hussein adalah nama kecil ayahnya, Abd al-Majid adalah nama kakeknya, dan at-Tikriti berarti ia dilahirkan dan dibesarkan dekat Tikrit. Ia biasa dipanggil Saddam Hussein, atau hanya Saddam untuk lebih singkatnya.

Saddam Hussein merupakan seorang Presiden Irak pada periode 16 Juli 1979 hingga 9 April 2003 yang diktator. Dalam wilayah timur tengah, Saddam Hussein adalah tokoh yang pernah disegani karena keberaniannya menentang Amerika Serikat dan Israel sehingga pernah mendapat julukan sebagai ”Singa Padang Pasir”. Namun dibalik popularitasnya itu, ia merupakan seorang yang sangat keras dan penuh dengan kontroversi. Pada masa kepemimpinannya, ia dilaporkan  telah menghabisi kelompok-kelompok yang dianggap menentang dan menjadi musuh politiknya.

Saat usianya masih 20 tahun, Saddam Hussein sudah terjun dalam dunia politik dengan bergabung dalam partai Baath, ia memainkan peran penting dalam kudeta yang dilakukan partai Baath terhadap Presiden Irak Abdul Rahman Arif pada tahun 1968. Kudeta itu sendiri dipimpin oleh ketua partai Baath, Hasan Al-Bakr yang kemudian setelah kudeta mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden. Karena Saddam Hussein merupakan saudara sepupu dari Hasan Al-Bakr, maka Saddam kemudian diangkat sebagai wakil presiden selama 15 tahun.


Pada rentang waktu 15 tahun itu pulalah Saddam melakukan berbagai aksi represif terhadap rakyat Irak. Hal ini membuat dirinya semakin berkuasa sehingga pada akhirnya berhasil menyingkirkan sepupunya sendiri, Hasan Al-Bakr dengan merebut kursi kepresidenan. Tak lama kemudian ia berhasil menjadi pemimpin partai Baath. Pada saat menduduki  jabatan sebagai pimpinan tertinggi partai inilah ia melakukan pembersiahn besar-besaran dalam tubuh partai.  Para penentangnya baik itu lawan politik, maupun ulama disiksa dalam penjara. Bahkan ada yang dibunuh. Selama 35 tahun kepemimpinannya dalam partai Baath, Saddam  telah melakukan pembantaian massal terhadap suku Kurdi di utara Irak serta warga Syiah di selatan Irak. Sebagai presiden, Saddam menciptakan pemerintahan yang otoriter dan mempertahankan kekuasaannya melalui Perang Iran-Irak (1980–1988) dan Perang Teluk (1991). Kedua perang itu menyebabkan penurunan drastis standar hidup dan hak asasi manusia. Pemerintahan Saddam menindas gerakan-gerakan yang dianggapnya mengancam, khususnya gerakan yang muncul dari kelompok-kelompok etnis atau keagamaan yang memperjuangan kemerdkaan atau pemerintahan otonom.


Hubungan antara Saddam Hussein dengan Amerika Serikat sangat nampak pada saat invansi Irak ke Iran pada tahun 1980. Invasi itu terjadi persis setelah pecahnya Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Kahomeini, yang berhasil menumbangkan raja boneka buatan Amerika Serikat yaitu Reza Syah Pahlevi. Kelompok revolusi inilah yang kemudian berkuasa dan bersikap sangat vokal dalam menentang imperialisme Amerika Serikat. Sejak berkuasanya kaum revolusi di Iran, otomatis Amerika Serikat sudah tidak bisa  lagi mengeksploitasai kekayaan alam Iran sebagaimana telah dilakukannnya selama era pemerintahan Pahlevi. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan Amerika Serikat meminta bantuan kepada Saddam Hussein yang sekaligus mendorong invasi Irak atas Iran.


Selama masa perang Irak-Iran negara yang menjadi sekutu dan paling gencar memberi dukungan  politik dan dana adalah Amerika Serikat.  Bahkan diduga kuat negara Barat turut membantu Saddam Hussein dalam memproduksi senjata pembunuh masal yang digunakan dalam menyerang Iran. Akibat yang ditimbulkan dari adanya perang yang di kobarkan oleh Saddam Hussein yaitu ribuan warga sipil Iran menjadi korban. Iran juga harus menelan kerugian materiil ratusan miliar dolar dan mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi dan sosial.

Saddam Hussein dikenal sangat kejam terhadap musuh-musuhnya, saat perang Irak-Iran ia menggunakan senjata dan bom kimia berbahaya yang dapat membunuh puluhan ribu orang, tidak kurang dari 45.000 korban yang selamat terpaksa harus hidup dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia. Akibat perang tersebut Irak juga mengalami kerugian dan kemerosotan ekonomi selama bertahun-tahun. Banyak rakyat yang menderita dan kemudian  memunculkan gerakan oposisi yang berupaya menggulingkan Saddam Hussein dari kursi kekuasaannya. Keadaan semakin parah ketika Amerika Serikat berkhianat dengan melakukan embargo ekonomi selam 12 tahun kepada Irak.


Setelah kalah dalam usahanya untuk menguasai Iran, Saddam pun mulai dikhianati oleh sekutunya itu. Atas lampu hijau dari AS, pada tahun 1991 Saddam menyerang Kuwait dengan tujuan menguasai ladang-ladang minyak di negeri itu. Namun, setelah serbuan Saddam ke Kuwait, AS malah menggalang pasukan multinasional untuk membela Kuwait. Tentu saja pasukan Saddam yang memang sudah lemah karena delapan tahun bertempur dengan Iran, dengan mudah bisa dipukul mundur oleh AS dan sekutu-sekutunya. Kelemahan posisi Saddam dimanfaatkan oleh sebagian bangsa Irak untuk memberontak dari diktator yang selama ini sudah menyengsarakan mereka itu.


Amerika Serikat kemudian menginvasi Irak pada tahun 2003. Dengan liciknya Amerika berhasil menggiring opini dunia dengan membuat tuduhan bahwa Saddam mempunyai senjata pemusnah massal yang dapat mengancam keselamatan dunia. Atas alasan tersebut Amerika Serikat bersama koalisinya pun  menginvasi Irak dan menagkap Saddam Hussein dengan tuduhan sebagai penjahat perang. Akhirnya Saddam pun lengser dari kursi kepresidenan dan Irak pun dikuasai oleh pemerintahan boneka yang dibuat oleh Amerika Serikat serta Inggris. Saddam Hussein ditangkap oleh pasukan-pasukan AS pada 13 Desember 2003. Pada 5 November 2006 Hakim Ketua Rauf Rasheed Abdel Rahman menjatuhkan hukuman mati dengan cara digantung kepadanya atas kejahatan terhadap umat manusia. Pada 26 Desember 2006 Mahmamah Agung Irak menyatakan untuk segera melaksanakan vonis yang telah dijatuhkan. Pada 30 Desember 2006 Saddam Hussein dieksekusi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar