Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

4 Februari 2014

Kebudayaan Masyarakat Nagan Raya



Oleh:

Syahrul Indra

Sebelum saya ceritakan kebudayaan Nagan Raya alangkah baiknya pembaca mengetahui asal usul kabupaten Nagan Raya. Kabupaten Nagan Raya adalah salah satu kabupaten dari Barat-Selatan yang berdiri berdasarkan UU nomor 4 tahun 2002 sebagai hasil pemekaran dari Aceh Barat. kata nagan merupakan kependekan dari Seunagan yang menunjukkan lima kata kecamatan hasil pemekaran, pemberian nama seunagan ini memiliki cerita yang mirip dengan dongeng. Bedasarkan cerita orang-orang tua yang ada dikecamatan tersebut bahwa seunagan berasal dari “seuh naga” yang terjemahannya sisa yang dimakan oleh naga. Konon ceritanya serombongan pendatang kalau kita lihat dari sejarahnya bahwa pendatang yang datang ke Barat-Selatan ialah penduduk dari Pidie dan Aceh Rayeuk yang masa kesultanan Aceh untuk membuka kerajaan kecil diwilayah Barat-Selatan yang dipimpin oleh Ule Balang, dan mereka selain untuk mendirikan kerajaan mereka juga ingin membuka lahan pertanian yang dianggap tanahnya masih subur untuk penanaman tumbuhan dan lain-lain.

Hubungan Kerajaan Aceh Darussalam Dan Kerajaan Melayu Malaysia



Oleh:

Wan Dian Armando

Amul Huzni

Sejak berabad-abad yang lalu, hubungan antara Aceh yang terletak di utara pulau Sumatera, Indonesia dengan semenanjung Tanah Melayu(Malaysia Barat) sudah terjalin sangat erat. Orang Aceh lebih senang menyebut Malaysia dengan sebutan Malaya. Sejak dahulu, jika ada yang mengatakan baru pulang dari Malaya adalah sesuatu yang menakjubkan dan dianggap sangat mulia. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa kedua wilayah ini menjalin hubungan yang lebih erat, berkesan dan kadangkala tragis, disekitar abad 16-17 Masehi, yakni ketika Aceh terkenal sebagai kerajaan islam yang besar dan berpengaruh di Nusantara dan imperialisme Barat sedang giat   mengancam kerajaan-kerajaan islam di seluruh kawasan tersebut.

Hamzah Fansuri Bapak Bahasa Dan Kesusastraan Aceh Malaya



Oleh :

Oga Umar Dhani

Meri Andriani

Pasti semua orang akan mengenal dengan Syehk Hamzah Fansuri dan bagi kalangan orang yang mengkaji sejarah sastra dan islam di kawasan Asia Tenggara pasti tidak dapat menyampingkan tokoh ini.Ia adalah sosok sufi dan penyair Melayu yang sangat berpengaruh pada masanya dan bahkan sampai beberapa abad setelahnya.Ia juga merupakan sosok ulama dan birokrat yang kritis terhadap penguasa.Namun sejarah kehidupan tokoh ini masih diliputi oleh misteri.namun para peneliti terus melakukan penelitian mengenai Hamzah Fansuri dikarenakan ada asumsi yang kuat bahwa tokoh sufi dan penyair ini telah memiliki peran dan pengaruh yang besar di kawasan Asia tenggara,Khususnya di Aceh.Sejarah Aceh bila dipelajari sangat unik dan menarik karena selain Aceh dikenal dalam sejarah sebagai negeri yang suka berperang namun juga Aceh merupakan Negeri yang menghasilkan  seorang cendekiawan, ulama tasawuf, sastrawan dan budayawan terkemuka bahkan pemikiran dan syair-syairnya dikenal di berbagai negeri beliau adalah Syekh Hamzah Fansuri yang masa hidupnya yaitu pada masa Aceh dibawah kesultanan Iskandar Muda.

Gereja Setan dan Baphomet (Menguak Sejarah Setanisme - bagian ke-2)



Setanisme secara singkat dapat diartikan sebagai penyembahan setan dan menjadikannya sebagai tuhan. Selain menolak Allah, semua agama dan nilai keagamaan, gerakan jahat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Setanisme juga menerima setan, lambang kejahatan, sebagai pemimpin dan pembimbing.

Dari Kerajaan Lamuri ke Kerajaan Aceh Darussalam



Oleh :

Robi Oskar

Mentari

Kerajaan Lamuri, yang terletak di lokasi Banda Aceh sekarang, adalah salah satu negeri yang tercantum pada prasasti Tanjore, di India Selatan. Monumen itu dibangun oleh Raja Rajendra Cola I pada tahun 1030 Masehi untuk mengenang sukses militernya ke beberapa negeri di Sumatera dan Semenanjung Melayu sekitar tahun 1023-1024. Dari prasasti Tanjore dapat diketahui bahwa Lamuri sudah berdiri. Dan dikuatkan oleh laporan perjalanan saudagar Sulayman, Lamuri sudah berdiri paling lambat di awal abad IX. Di lain pihak, pengunjung-pengunjung Arab yang singgah di Lamuri masih tidak menyebutkan Pasai dan Perlak. Kedua negeri ini baru tarcatat oleh Marco Polo. Memerhatikan beberapa nama kota yang disebutnya, cukup alasan mempercayai bahwa Marco Polo sudah berkunjung ke Sumatera. Dia menyebut Lamuri: Lambri.

Benarkah Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman ?



Oleh : Muhammad Noval

Minggu 5 januari 2014 aku memulai kembali menulis setelah cukup lama fakum dalam dunia tulis menulis, entah kenapa kali ini hatiku tergugah untuk memulai kembali dengan coretan-coretan yang mungkin  bermanfaat bagi orang lain sekaligus sangat berarti bagiku, karna guru saya pernah berkata bahwa “tulisan bisa merubah dunia’’. Pertama aku akan menceritakan sedikit tentang  perkembangan mahasiswa FKIP khususnya prody sejarah. Dalam beberapa bulan terakhir mahasiswa sejarah seakan sudah bangun dari tidur panjangnya buktinya mereka sudah membuat beberapa acara diantaranya seminar sejarah tentang pahlawan, juga kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat bersejarah. Hal ini membuat ketua prody kami sempat kagum dengan mahasiswa sejarah. Kenapa demikian???  Itu terjadi karena himpunan sejarah suadah hampir 4 tahun tidak mengadakan seminar. Jadi pantas jika ketua prody mengapresiasi keberhasilan seminar tersebut.

Ada Apa Dengan Perang Dunia? Demi Belasan Kilometer Ratusan Ribu Tewas (bagian kedua)



Perang parit menjadi strategi utama Perang Dunia Pertama. Selama beberapa tahun berikutnya, bisa dikatakan para serdadu hidup dalam parit-parit ini. Kehidupan di sana benar-benar sulit. Para prajurit hidup dalam ancaman terus-menerus dibom, dan mereka tak henti-hentinya menghadapi ketakutan dan ketegangan yang luar biasa. Mayat mereka yang telah tewas terpaksa dibiarkan di tempat-tempat ini, dan para serdadu harus tidur di samping mayat-mayat tersebut. Bila turun hujan, parit-parit itu dibanjiri lumpur.

Aceh Pada Masa Purbakala



Zaman prasejarah di Aceh masih dapat kita ketahui hasil karya atau hasil kajian-kajian para arkeologi. Untuk mengetahui asal usul penghuni pertama yang menghuni wilayah Aceh tidak mudah di tentukan, namun dari data-data peninggalan sejarah purbakala membuktikan bahwa sudah ada manusia di Aceh pada masa prasejarah. Proses penelitian masa prasejarah di Aceh cukup lama, hal itu di karnakan penelitian Arkeologi masih langka/masih kurang. Namun walaupun data penelitian purbakala masih minim, tetapi tidak mengurangi  kita untuk menelusuri kondisi pada zaman tersebut. Harapan kita semua, makalah yang kami buat ini dapat menorong minat terhadap kajian Sejarah untuk para sejarawan dan Arkeologi. Oleh karana itu, kita membutuhkan pegangan yang kuat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam gambaran atau penulisan sejarah Aceh.

Aceh Dibawah Kepimimpinan Sultan Iskandar Tsani

Oleh:

Abdul Ghani

Dewi Patona

Pada tanggal 12 dzulqaidah 916 H (1511 M) Iskandar Tsani atau Ali Mughayat Syah dilantik (dinobatkan) menjadi Sulthan kerajaan Aceh dengan gelar Sultan Alauddin Ali Mghayat Syah, pada tanggal 12 dzulhijjah tahun 936 H (7 agustus 1530 M), Sultan Ali Mughayat Syah mangkat setelah beliau berhasil menyelesaikan  program kerjanya yang utama yaitu berhasil mengusir protugis dari seluruh daratan Aceh. Setelah Aceh Berjaya menyerang Pahang pada tahun 1618, dan Sulthan Iskadar Tsani dari Pahang dibawa ke Aceh. Dan setelah permaisuri dari Pahang menjadi janda Sultan Iskandar muda menikahi puteri Pahang tersebut, yang oleh rakyat dikenal dengan sebutan Putroe Phang yang sangat cantik. Dan waktu itu Slthan Iskandar Tsani masik berumur tujuh tahun dan dijadikan anak angkat oleh Sultan Iskandar Muda. pada usia Sembilan tahun Iskandar Tsani dinikahkan oleh Sulthan Iskandar Muda dengan putrinya Sri Alam , dan pada usia 10 tahun Sultan Tsani diresmikan menjadi putra mahkota, unyuk menggatikan Sulthan Iskandar Muda kelak ( apabila beliau sudah tutup usia).

17 Januari 2014

Snouck Hurgronye, Sang Muallaf Palsu Demi Mempelajari Islam di Makkah



Cristian Snouck Hurgronje atau Abdul Gafar atau Abu Puteh adalah sebuah nama yang telah ditinggalkan dalam benak Rakyat Aceh. Nama itu tak asing lagi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya di masa perang Belanda di Aceh dalam rentan waktu 1873-1942. Berkat informasi yang dipasok sang orientalis yang menguasai budaya Aceh dan Islam itu, pasukan kolonial Belanda yang sejak awal telah frustasi terhadap sengitnya perlawanan yang diberikan oleh pejuang Aceh, kemudian secara perlahan-lahan seperti telah mengetahui titik kelemahan Aceh dan bertekat ingin menguasai Aceh, dan tentunya atas saran dari Snouck Hurgronye tersebut. Rupanya, kiprah warga Belanda itu tak hanya tercatat di bumi Serambi Mekkah saja. Jejak kaki Hurgronje (1857-1936) juga sampai ke Makkah yang sesungguhnya di Arab Saudi. Demi mempelajari Islam, ritual haji, dan kehidupan masyarakat di Makkah, lulusan jurusan teologi di Universitas Lieden, ini pernah tinggal selama sekitar tujuh bulan di Kota Suci itu.

Mengungkap Kiprah Perjanalan Sang Bangsawan; Uleebalang Aceh



Mengenai literatur yang meriwayatkan Uleebalang Aceh terbatas sekali, sehingga agak sulit mengungkap secara detail tentang status dan peranan Uleebalang dalam pemerintahan Aceh di masa silam. Untung, catatan pribadi beberapa pegawai pemerintah Belanda yang bertugas di Aceh merekamnya. Menurut sejarahnya, jabatan Uleebalang sudah lama dikenal di Aceh – paling tidak – sejak tahun 1641-1675 (semasa pemerintahan Sultan Safiyat ad-Din Taj al-Alam dan Raja Permaisuri Putri Sri 'Alam 1675-1678 Sultan Naquiyat ad-Din Nur al-Alam) sudah wujud. Njak Asiah atau Tjut Njak Karti yang dipanggil juga Tjut Njak Keureutoë, adalah Uleebalang bijak yang memimpin wilayah Keureutoë dan sekitarnya (priode: 1641-1675). Dalam rentang masa yang sama, Uleebalang Tjut Njak Fatimah berkuasa di Meulaboh.

Aceh di Mata P.J Veth



Yang paling mengagumkan dari semua contoh pemerintahan di Nusantara adalah terdapat di Kerajaan Aceh Sumatera, suatu kerajaan yang mempunyai tempat yang sangat penting dalam sejarah.” (P J Veth). Menurut sejarawan Aceh, Rusdi Sufi dalam tulisannya Sultanah Safiatuddin Syah yang dibukukan bersama tulisan para sejarawan lainnya tentang pemerintahan sultanah di Aceh dalam Prominent Woment in The Glimpse of History. Pemerintahan sultanah di Aceh mendapat perhatian dari para penulis sejarah di Eropa. Salah satunya adalah P. J Veth, seorang profesor dalam etnologi dan geografi di Universitas Leiden, Belanda.

Buku Api Sejarah; Mengungkap Yang Tersembunyi dan Disembunyikan



Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (Qs. Huud 11:120). Upaya deislamisasi penulisan Sejarah Indonesia sudah berlangsung cukup lama. Secara sistemik proses deislamisasi penulisan Sejarah Indonesia, menjadikan peran Ulama dan Santri dibidang ipoleksusbudhankam, tidak mendapat tempat yang terhormat dalam penulisan Sejarah Indonesia. Sementara masyarakat awam dan Cendekiawan Muslim sangat kurang memperhatikannya. Mereka mengira penulisan sejarah yang benar adalah yang pernah dituliskan terlebih dahulu oleh sejarawan Belanda.

16 Januari 2014

Upacara Turun Tanah Pada Rakyat Aceh



Masyarakat Aceh, sebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia, mempercayai bahwa masa peralihan dari kehidupan seseorang (dari kelahiran sampai kematian) adalah masa-masa yang krisis2. Untuk itu, perlu adanya suatu usaha menetralkannya. Wujud dari usaha itu adalah berbagai bentuk upacara di lingkaran hidup individu, seperti upacara: kehamilan, kelahiran, turun tanah, perkawinan dan kematian. Dalam artikel ini hanya akan diuraikan salah satu upacara di lingkaran hidup individu yang dilakukan oleh masyarakat Aceh, yaitu upacara turun tanah. Uraian meliputi: peralatan dan perlengkapan, tata laksana, dan nilai budaya yang terkandung dalam upacara turun tanah.

Adat Aceh Dalam Acara Peutron Aneuk



Negara-negara di dunia umumnya memiliki masyarakat yang majemuk. Masyarakat majemuk adalah masyarakat yang memiliki berbagai kebudayaan khusus yang jelas sekali. Demikian juga dengan Negara kita Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki kebudayaan yang berbeda dengan suku bangsa lainnya. Indonesia merupakan negara yang menganut pluralitas di bidang hukum, dimana diakui keberadaan hukum barat, hukum agama dan hukum adat. Dalam prakteknya (deskriptif) sebagian masyarak masih menggunakan hukum adat untuk mengelola ketertiban di lingkungannya. Di tinjau secara preskripsi (dimana hukum adat dijadikan landasan dalam menetapkan keputusan atau peraturan perundangan), secara resmi, diakui keberadaaanya namun dibatasi dalam peranannya. Beberapa contoh terkait adalah UU dibidang agraria No.5/1960 yang mengakui keberadaan hukum adat dalam kepemilikan tanah dan proses perkawinan dan lain-lain. (Subekti: 1992: 67).

15 Januari 2014

Perlawanan Laksamana Keumala Hayati Terhadap Segala Bentuk Imperialisme Dan Kolonialisme Eropa

Oleh:

Afriansyah

Fitrianadewinta

Amul Hustni

Aceh terletak di ujung bagian Utara pulau Sumatera, bagian paling barat dan paling utara dari kepulauan Indonesia. Secara astronomis dapat ditentukan bahwa daerah ini terletak antara 95’ 13’ dan 98’ 17’ bujut timur dan 2’ 48’ dan 5’ 40’lintar untara. Dengan melihat posisinya yang demikian, Aceh dapat disebut sebagai pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia. Karena letaknya yang sangat strategis ini dalam perjalanan sejarahnya Aceh banyak dikunjungi oleh bangsa asing dengan berbagai kepentingan perdagangan,diplomasi,dan sebagainya. Kedatangan bangsa asing ini merupakan salah satu hal penting bagi perkembangan Aceh baik secara politik,kultur,dan ekonominya. Meski pun demikian diantara para pendatang asing  tersebut banyak yang melakukan tindakan-tindakan yang didorong oleh kolonialisme dan imprialisme, baik di Aceh dan kawasan sekitarnya. Oleh karena itu timbullah sikap antagonistis dan reaksi perlawanan oleh rakyat Aceh. Perlawanan-perlawanan itu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi pihak yang bersangkutan. Bansa asing yang pertama kali melakukan kontak dan berkonflik dengan Aceh yaitu bangsa Portugis.