Jamuan makan 16 Juni 1948 di Hotel Atjeh
menjadi awal lahirnya Seulawah RI 01 dan 02, cikal bakal Garuda Indonesia
Airways. Di depan para saudagar yang datang ke jamuan itu, Soekarno, dengan
gaya khasnya berpidato. Ia meminta para saudagar Aceh menyumbangkan harta
mereka untuk pengadaan pesawat terbang. Tak jelas apa yang dikatakan Bung Karno
dulu. Tapi ruang jamuan makan itu bisa jadi saksi apa yang dibincangkan
Soekarno dengan Daud Beureueh dan hartawan Aceh.
Bunga Rampai Aceh
7 Maret 2013
Buku Hasan Tiro: “Atjeh Di Mata Dunia” Dialihbahasakan
“Setelah peperangan besar dengan Belanda yang
dimulai tahun 1873 dan selesai tahun 1937, tidak ada satu pemimpin Atjèh pun
yang hidup, karena semua memilih syahid dalam peperangan daripada hidup menjadi
budak Belanda. Teladan ini yang diberikan untuk kita sebagai cucunya, adalah
suatu kemutlakan yang tidak bisa dibantah dan tidak perlu menunggu jawaban dari
kita.”
Bendera HIMAS Dan GAM, Serupa Tapi Jauh Berbeda
Raut wajah
seorang laki-laki berbaju loreng terlihat serius ketika memperhatikan selembar
bendera terpancang diatas atap sebuah bangunan bertingkat dua yang kian usang
dimakan waktu. Warna dasarnya merah, dihiasi dengan dua buah strip atas bawah
berwarna biru. Tepat di tengah-tengah bendera tersebut terpampang cap
sikureung, sebuah stempel kerajaan Aceh Darussalam masa kesultanan tempo dulu.
Aceh Dan Tengku Muhammad Daud Beureueh Yang Dikagumi Serta Yang Dikhianati
Pada 1893, Teuku Umar membuat terkejut pejuang Aceh
ketika ia bersekutu dengan Belanda. Tapi dua tahun kemudian, setelah
mendapatkan senjata dan logistik, ia berbalik mengkhianati Belanda. Versi lain
menyebut, pembelotan Teuku Umar terjadi karena kecewa dengan Belanda. Artinya,
bila tak kecewa, Teuku Umar tetap ikut Belanda. Entah mana yang benar, yang
pasti, setelah itu muncul istilah yang populer: tipu Aceh.
21 Januari 2013
Peran Aceh Dalam Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949)
Oleh: T.A.
Sakti
Pendahuluan
Tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia di proklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno Hatta. Pernyataan kemerdekaan itu tidak langsung diterima baik oleh semua pihak, terutama pihak Belanda dengan gigih berusaha untuk kembali menguasai seluruh kepulauan Indonesia. Pertentangan pihak Belanda dengan Indonesia sampai menjelang tahun 1950. mereka menjalankan politik adu domba dan pecah belah diantara rakyat Indonesia dengan maksud dapat menduduki kembali seluruh kepulauan Indonesai.
Perlawanan Tengku Peukan Manggeng Terhadap Belanda Di Aceh Barat Daya (Abdya)
Perlawanan terhadap Belanda juga terjadi diwilayah Barat Daya yang
dipimpin oleh Tengku Peukan Manggeng, Haji Yahya dan Sidi Rajab. Dalam suatu
musyawarah yang diselenggarakan di Paya Dapu wilayah Kluet, ditetapkan Tengku
Peukan Manggeng sebagai panglima perang dan penyerangan lebih dahulu dilakukan
pada malam hari di tangsi (asrama) Blangpidie pada akhir tahun 1926. Tengku
Peukan tergolong seorang ulama yang kharismatik dan berpengaruh di Manggeng dan
sekitarnya, orang tua beliau juga merupakan seorang ulama yang berpengaruh di
daerah itu. Tengku Peukan merupakan putera dari seorang ulama yang bernama
Tengku Padang Ganting dan Siti Zalekha yang dilahirkan pada tahun 1886 di desa
Alu Paku kecamatan Sawang Aceh Selatan. Sebagai seorang ulama dan tokoh
masyarakat yang berpengaruh, Tengku Peukan semakin membahayakan posisi Belanda
di Blangpidie. Dakwah Tengku Peukan selalu dimata-matai oleh kaki tangan
Belanda. Tengku Peukan sering merekrut para pengikut melalui media dakwah.
Dalam dakwahnya Tengku Peukan selalu memaparkan bahwa membela dan
mempertahankan tanah air adalah ibadah, jika meninggal dalam peperangan sabil
melawan kafir (kaphe) Belanda maka akan mendapatkan surga sebagai imbalannya.
Tengku Peukan juga mengajak rakyat untuk menentang setiap penjajahan dan
membenci setiap perampasan hak azasi manusia.
Perlawanan Teuku Raja Angkasah Di Bakongan Aceh Selatan 1905-1925
Sejak
meletusnya Perang Belanda di Aceh dari tahun 1873 sampai 1942 , perang dapat
dibagi dalam empat periodisasi atau kurun waktu. Periode pertama 1873-1874,
periode kedua 1874-1880, kemudian periode ketiga 1884-1896, selanjutnya periode
terakhir 1896-1942. Pada periode terakhir ini Belanda tidak lagi menerapkan
benteng stelsel namun sudah menerapkan sistem antigerilya di mana gerilya
dibalas dengan gerilya dengan membentuk suatu pasukan khusus yang bernama Het
Korps Marechausse atau Marsose. Pasukan inilah yang ditugaskan untuk mengejar pada
gerilyawan Aceh yang juga sudah mulai menerapkan sistem gerilya setelah banyak
sekali korban jatuh dalam perang kolosal.
Sepak Terjang Dari Sosok Ulama Abu Habib Muda Seunagan
Aceh memang tak pernah kering dari darah pejuang dan
tak jarang pula melahirkan para ulama. Salah seorang diantaranya adalah Abu
Habib Muda Seunagan, sosok kharismatis dari Pantai Barat. Selain seorang ulama
yang dihormati, beliau juga pejuang yang disegani. Ia meninggal di Desa
Peuleukung, Seunagan Barat, Kabupaten Nagan Raya, 14 Juni 1972 dan dikebumikan
di samping Masjid Jamiek Abu Habib Muda Seunagan. Berkat jasanya dalam perang
kemerdekaan, Pemerintah RI menganugerahkannya “Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama”
kepada Abu Habib Muda Seunagan.
Seputar G-30S/PKI
Kesaksian bekas Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama Harya Sudirja bahwa
Bung Karno menginginkan Menpangad Letjen Achmad Yani menjadi presiden kedua
bila kesehatan Proklamator itu menurun, ternyata sudah lebih dahulu diketahui
isteri dan putra-putri pahlawan revolusi tersebut. “BAPAK sendiri sudah cerita
kepada kami (isteri dan putra-putri Yani) bahwa dia bakal menjadi
presiden.Waktu itu Bapak berpesan, jangan dulu bilang sama orang lain”, ujar
putra-putri Achmad Yani : Rully Yani, Elina Yani, Yuni Yani dan Edi Yani -
Sebelumnya diberitakan dalam acara diskusi “Jakarta - Forum Live, Peristiwa G-30S/PKI,
Upaya Mencari Kebenaran” terungkap kesaksian baru, yaitu beberapa hari sebelum
peristiwa kelam dalam sejarah republik ini meletus, Bung Karno pernah meminta
Menpangad Letjen Achmad Yani menggantikan dirinya menjadi presiden bila
kesehatan proklamator itu menurun.
Tengku Peukan Syahid Setelah Mengumandangkan Azan
Makam
Tengku Peukan yang berada di Pusat Kota Blangpidie, tepatnya di depan Mesjid
Jamid Blangpidie. Ini merupakan bukti sejarah perlawanan terhadap bangsa asing
di Bumo Breuh Sigupai. Serangan pada 11 September 1926 yang membuat Tengku
Peukan syahid, menjadi saksi dan jejak sejarah keheroikan para pejuang dalam
menghadapi eksploitasi dan kolonialisasi Belanda. Letnan H. Colijn seorang
controleur di Tapaktuan pada 3 juni 1899 mengumumkan kenegerian Tapaktuan dan
Pantai Barat Daya (sekarang Kabupaten Abdya) sebagai wilayah kekuasaannya.
14 Januari 2013
Pengaruh Kebudayaan Hindu Dan Budha Di Aceh
Oleh: Chaerol Riezal
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia berasal dari India. Agama budaya
India tersebut disebarkan oleh kaum Brahmana. Hal ini dibuktikan oleh beberapa
kebiasaan kaum Brahmana yang berkembang di Indonesia. Kebiasaan-kebiasaan yang
dimaksud, antara lain:
a.
Prasasti-prasasti,
b.
Upacara-upacara keagamaan.
Masuknya pengaruh India ke Indonesia diketahui sejak
abad ke-4 Masehi, yaitu dengan ditemukannya tulisan (prasasti) di Kalimantan
Timur. Prasasti-prasasti itu ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan huruf
Pallawa. Dengan ditemukannya prasasti atau tulisan yang berbahasa Sanskerta dan
berhuruf Pallawa, maka berakhirlah masa Prasejarah Indonesia. Tradisi
tulis-menulis itu tentunya membutuhkan pengetahuan yang tinggi dan pada waktu
itu kebiasaan tersebut hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Kaum Brahmana merupakan
kasta atau golongan yang tertinggi dikalangan orang-orang Hindu.
Selain tradisi tulis-menulis, dalam kaum Brahmana
berkembang pula kebiasaan upacara-upacara penyucian. Upacara tersebut dengan
Pratyastoma. Kebiasaan atau tradisi itu kemudian dipergunakan oleh raja-raja di
Indonesia untuk mengesahkan dan mengukuhkan kedudukannya sebagai raja. Kaum
Brahmana ketika itu tinggal di Keraton. Mereka bertindak sebagai penasihat
raja. Oleh karena itu, unsur-unsur agama
Hindu dan Budha berkembang kuat di kalangan istana. Bersamaan dengan itu,
muncul pula kaum Brahmana baru di kalangan bangsa Indonesia. Mereka tidak
sedikit yang pergi berziarah ke tempat-tempat suci di India. Di sana, mereka
pun memperdalam pengetahuan keagamaan, seni, dan sastra Indonesia. Untuk
kemudian pengetahuan-pengetahuan tersebut disebarkan kembali kapada masyarakat
di Indonesia. Dengan masuknya pengaruh budaya India, budaya Indonesia mengalami
perubahan yang besar sekali. Dengan dikenalnya bahasa Sanskerta dengan huruf
Pallawa, maka berarti berakhirlah zaman prasejarah Indonesia. Sejak saat itu,
didapatkan keterangan-keterangan tertulis mengenai nenek moyang kita.
Para Pemimpin Aceh Dalam Catatan Dan Lintasan Sejarah
Setelah
sekian lama Aceh tampil dalam pentas kesejarahan nasional - internasional dan
matang dalam berbagai ujian sejarah secara alamiah, maka sampailah Aceh pada
suatu masa yang membuat Rakyat Aceh selalu memandangnya atau menaruh rasa
hormat oleh karenanya. Itulah masa keemasan: masa kejayaan yang merupakan buah
perjuangan dari titian roda sejarah. Adalah Sultan Iskandar Muda yang telah
menghantarkan Aceh Darussalam kebabak kegemilangannya pada masa pemerintahannya
(1607-1636), yang merupakan salah satu Sultan atau Penguasa Aceh yang masih di
idolakan oleh Rakyat Aceh hingga sampai saat ini.
MoU Helsinki: Perjanjian Dengan Hantu
Setelah kita perhatikan dalam beberapa tahun ini
perdamaian yang ditandatangani oleh GAM dan RI semakin tahun terlihat semakin
pudar. Mungkinkah semua ini disebabkan yang menandatangin MoU tersebut, tak
tahu apa itu yang sudah ditandatangani atau setuju menandatangani untuk
keselamatan diri masing-masing.
Hikayat, Nyanyian Dan Sastra Aceh Sepanjang Masa
Apa itu sastra Aceh? Karya sastra yang mana saja yang
layak disebut sebagai karya sastra Aceh? Apakah hanya karya-karya sastra yang
berbahasa Aceh saja? Apa saja ciri dan bentuknya? Dan bagaimana perkembangannya
dari zaman ke zaman? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini yang ingin saya
bahas secara sepintas.
Habib Muda Seunagan Dan Kiprah Ulama Dari Tanah Rencong Aceh Untuk NKRI
Pernahkah,
mampukah atau beranikah Indonesia layaknya seperti Negara tentangga Malaysia
yang menyatakan didepan Parlemen Internasional bahwa agama resminya adalah
Agama Islam?. Perjuangan bangsa Indonesia sejak dulu kala mulai dari merebut,
mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan tidak terlepas dari peran ulama. Maka
sudah pantasalah negara Republik Indonesia ini dijadikan sebagai Negara Islam
yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist serta mempraktikkan Syariat Islam di
seluruh Nusantara ini.
2 Makam Syekh Abdurrauf As Singkili
Syekh Abdurauf As Singkili merupakan salah satu ulama besar yang berasal dari
Singkil. Namanya kini dilakapkan menjadi salah satu universitas di Propinsi
Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala atau sering disebut Unsyiah.
Langganan:
Postingan (Atom)




